Honor Tinggi = Hasil Kerja Bagus? Belum Tentu

Sebenarnya saya malas, jengah, dan jemu mengungkit-ungkit persoalan sesensitif pendapatan dan kompensasi penerjemah dan editor buku. Rasanya sudah berkali-kali disampaikan oleh pihak berwenang (dalam hal ini, perwakilan penerbit) ihwal alasan kuat ketentuan besaran honor dan tidak benar « tuduhan » masyarakat bahwa penerbit menelan banyak keuntungan dari penjualan buku. Distributorlah yang menikmati persentase terbesar.

Tapi rupanya, hingga hari ini perkara tarif dan honor masih menjadi topik primadona. Susah betul move on dari bahasan yang berpotensi memanas ini kendati intinya sederhana saja: besar dan kecil sangat subjektif.

Satu hal yang mungkin belum diketahui orang, termasuk para pelaku penerjemahan buku sendiri, kisaran honor ditentukan banyak aspek. Dengan berat hati saya terpaksa menyebut angka. Katakanlah, yang terbilang tinggi di penerbit ABC adalah 14/karakter. Ini tidak bisa « sembarang » diberlakukan hanya dengan melihat popularitas penerjemah. Benar, kebanyakan penerjemah senior memiliki posisi tawar lebih, namun mereka yang terbukti kompeten, bukan « sekadar » berjam terbang banyak dan sudah menerjemahkan sekian puluh judul.

Kebijakan ini bukan tak berdasar. Ada penerbit yang kewalahan melacak jejak penerjemah tersohor yang mendadak sulit dihubungi menjelang tenggat. Ada lagi yang menyerahkan hasil, ternyata disubkontrakkan ke beberapa orang dan terjemahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga harus diterjemahkan ulang. Padahal kadang karena kepadatan jadwal sang penerjemah, penerbit menunggu cukup lama. Faktor-faktor penyebab mungkin hanya penerjemah itu sendiri yang tahu. Namun saya pikir lumrah bila setelah itu penerbit menjadi lebih ketat atau memberlakukan syarat tes untuk siapa pun yang melamar.

Idealnya, honor berbanding lurus dengan hasil kerja. Bukan berarti honor « rendah », kerja asal-asalan. Seperti kata Ibu Sofia Mansoor yang masih saya ingat benar, « Kalau sudah setuju dan diterima, selesaikan sebaik mungkin. » Honor « tingkat pemula », kerjakan dengan baik. Honor makin tinggi, harus jauh lebih bagus lagi. Bila sedari pemula saja sudah setengah hati dan hasilnya tidak memuaskan, mungkinkah penerbit memberi kesempatan untuk kenaikan honor? Bisa-bisa malah tamat riwayat penerjemah tersebut di sana alias tidak diorder lagi.

Postingan ini tidak bermaksud memojokkan siapa pun. Saya sangat hargai para editor in house yang tidak « mengumbar aib » penerjemah dengan mengomel-ngomel di tempat umum kendati harus memundurkan jadwal terbit atau membengkakkan biaya akibat hasil yang tidak memuaskan. Mengutip ucapan seseorang pagi ini, « Bukan hanya kemampuan yang perlu kita sadari, tapi juga ketidakmampuan sendiri. »

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s