Cerita 2012

renov

Satu kata mewakili tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya: Perubahan. Di awal, saya sudah memperoleh berita mengejutkan bahwa beberapa terjemahan tidak jadi terbit karena satu dan lain hal. Semula sedih juga, namun yang terpenting penerbit menyampaikan bahwa penyebabnya di luar kendali mereka, bukan karena terjemahan saya buruk. Kalau dipikir-pikir, masih banyak terjemahan saya sekian tahun lalu yang belum terbit (baca: tak jelas akan terbit atau batal).

Mungkin dengan begitu Tuhan membukakan pintu lebih lebar sehingga saya dapat lebih berfokus pada penyuntingan sebagaimana harapan tahun lalu. Seperti kata orang bijak, kadang kita harus rela melepaskan sesuatu yang erat digenggam guna mendapatkan yang lebih baik.

Salah satu alasan keputusan saya ini adalah pengelolaan waktu. Terbukti ketika Bapak (mertua) sakit cukup parah menjelang pertengahan tahun, kami bisa pulang kampung dua kali dalam jarak berdekatan. Memang « jalan-jalan » ini bertepatan dengan pernikahan dua kemenakan, tapi agenda utama kami tetap menjenguk Bapak yang alhamdulillah sudah membaik sekarang. Menyunting novel terjemahan « mempertemukan » kami dengan karya-karya yang bagus dan tidak memerlukan « operasi besar » sehingga waktu relatif singkat tetap terasa ringan dan fleksibel. Apabila tugasnya membutuhkan « bedah kosmetik » alias menerjemahkan ulang, kami mengembalikan saja pada editor PIC kemudian diganti naskah lain.

Sisi positif yang sama terasa tatkala Mama juga sakit. Kondisinya bertambah serius setelah sahabat karib beliau sejak kecil meninggal mendadak. Kejadian beruntun ini tidak mudah, jelas, sehingga saya hanya bisa berbagi dengan beberapa orang terdekat. Terima kasih banyak saya haturkan pada mereka, yang tak perlu saya sebut namanya, atas dukungan disertai pengertian akan karakter dan keputusan kami. Mereka yang bersedia mendengarkan dan tetap menghormati pendirian saya. Teman-teman inilah yang berbagi dan mengajari saya ihwal caregiving, sindrom empty nest serta efeknya, serta menguatkan mental saya kala dianggap kejam karena membawa orangtua ke psikiater. Alhamdulillah, berkat doa mereka dan orang-orang terkasih, Mama berangsur-angsur pulih.

Kendati tidak menerbitkan buku (karya sendiri) lagi entah sampai kapan, saya masih menulis. Selama beberapa bulan, saya memperoleh kesempatan menarik berkontribusi dalam tim penulis sebuah situs produk kerajinan tradisional Indonesia, khususnya kain. Lantaran buta mode, saya meluangkan waktu mengonsumsi referensi penunjang yang disediakan klien dan mengoleksi beberapa buku tambahan. Pengetahuan baru dan kegiatan yang saya sukai ini menebus kerinduan berkiprah di dunia web content writing yang saya tekuni semasa ngantor 12 tahun silam. Tidak hanya urusan kain, saya juga belajar menulis artikel motivasi dan menjadi juri dalam lomba yang diselenggarakan perusahaan.

Tahun ini, dua kali web saya kena serangan malware kronis. Banyak dugaan berkembang, di antaranya terkait traffic sehingga mengundang perusak yang « cemburu ». Saya memilih santai-santai saja, toh sudah dalam penanganan pihak yang kompeten dan memang pembersihan semacam itu membutuhkan waktu tidak sebentar. Porsi memperbarui konten tetap saya prioritaskan di sini ketimbang blog lain. Bagaimanapun, ngeblog buat saya bagian dari terapi menulis yang menyenangkan dan melegakan. Mas Agus selalu mengingatkan, « Di situ rumahmu. Tempatmu yang ternyaman. »

Kembali pada menerjemahkan, meski bukan lagi prioritas, saya bersyukur masih mendapat kepercayaan dan « berjodoh » dengan proyek tertentu. Antara lain The Casual Vacancy, yang juga saya garap selagi Mama sakit di rumah. Dua impian tercapai pula tahun ini, menerjemahkan buku Prancis (lagi) dan memoar.

Total suntingan yang kami selesaikan tahun ini sekitar 30 judul, termasuk nonfiksi dan naskah karya anak negeri. Senang bukan kepalang ketika sebagian terbit tak lama setelah kami rampungkan. Walau tak mengejar kuantitas, tak ayal bersyukur juga sebab kami punya energi untuk mengerjakan itu semua. Artinya, tahun ini kesehatan kami baik-baik saja:)

Di luar dugaan, kami terlibat penyuntingan dua buku dalam satu seri. Yang lebih menggembirakan lagi, dua editan saya dinyatakan minim koreksi oleh editor PIC yakni Forest of the Pygmies dan The Black Angel. Pernyataan yang memperbesar semangat, tentu tak lepas dari kepiawaian kedua penerjemah (Fanny Yuanita dan Mbak Esti) yang membuat penyuntingannya bak suara gunting di kain sutra. Tidak lupa bimbingan sang editor yang cermat dan sabar luar biasa.

Suatu bulan, saya sempat mengikuti seleksi penyuntingan terjemahan nonfiksi di sebuah penerbit dan tidak lulus. Pengalaman yang tetap menyenangkan, pertanda lolos di genre yang satu tidak menjamin bisa « nyelonong » di genre lain:D. Saya juga gugur tes jarak jauh EFN yang diselenggarakan Penerbit Gradien di tahap keempat. Toh, masih mencicipi pelajaran berharga mengenai surat-menyurat dengan penulis dan menyusun sinopsis.

Ihwal tahun 2013 yang sudah di ambang pintu, kami bukan perencana (yang baik). Semoga bisa menuntaskan apa yang belum rampung tahun ini.

Menyitir iklan mi instan, « Itu ceritaku, apa ceritamu? »

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s