The Dark Knight Rises (2012)

You do not fear death. You think this makes you strong. It makes you weak.
  Why?
How can you move faster than possible, fight longer than possible without the most powerful impulse of the spirit: the fear of death.

Betul, yang mengesankan dari film Batman terdahulu adalah Heath Ledger dan interpretasi Joker-nya. Betul, saya tidak terlalu menyukai film superhero. Namun Christopher Nolan dan Christian Bale layak diberi kesempatan membuktikan diri, akan apa yang sudah diperbuat dan dikolaborasikan selama delapan tahun. Waktu yang terasa singkat karena menonton Dark Knight saja saya termasuk terlambat. Dan itu disengaja.

Melanjutkan pengujung film yang sebelumnya, Gotham mengenang kematian Harvey Dent yang ditahbiskan sebagai pahlawan. Batman dianggap bersalah, mengucilkan diri dan masih sebagai Bruce Wayne dengan segala kemisteriusannya. Tak urung saat Catwoman yang diperankan Anne Hathaway hadir, tebersit dorongan membandingkan dengan « versi lain ». Tentu saja tidak adil, dan syukurlah saya sudah lupa.

Dark Knight Rises bukan memanjakan penggemar film laga. Aksi bak-bik-buknya relatif tidak banyak, didominasi drama pekat dan dialog yang cukup dalam. Saya sendiri tidak mencermati siapa dan apa latar belakang Bane, si penjahat bertopeng yang sadis, semata menempatkannya selaku « musuh Batman ». Itu langkah sederhana saya karena banyak tokoh muncul, di samping hamburan bintang seperti Liam Neeson, Gary Oldman, Morgan Freeman, Matthew Modine, bahkan Daniel Sunjata yang jarang kebagian peran utama dan tak ketinggalan Joseph Gordon-Levitt yang berubah imej.

Batman makin digali sosok manusianya. Masa lalu, sakit hati, kekurangan dalam hidup, penyesalan, dan banyak lagi. Ucapan Alfred yang penuh perhatian sangat membekas di hati saya:

Remember when you left Gotham? Before all this, before Batman? You were gone seven years. Seven years I waited, hoping that you wouldn’t come back. Every year, I took a holiday. I went to Florence, there’s this cafe, on the banks of the Arno. Every fine evening, I’d sit there and order a Fernet Branca. I had this fantasy, that I would look across the tables and I’d see you there, with a wife and maybe a couple of kids. You wouldn’t say anything to me, nor me to you. But we’d both know that you’d made it, that you were happy. I never wanted you to come back to Gotham. I always knew there was nothing here for you, except pain and tragedy. And I wanted something more for you than that. I still do.

Klimaks subplotnya berhasil membetot atensi saya lagi, bahkan sempat bikin larut dalam kesedihan. Sayang, ternyata

[spoiler] Batman alias Bruce Wayne tidak benar-benar meninggal. Yah, semoga saja dia tidak bangkit untuk kedua kalinya. [spoiler]

Tetap saja, film ini layak tonton menurut saya.

Skor: 3,5/5

Sumber poster: flixster

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s