Menjadi Penerjemah Buku di Era Teknologi

Saya mungkin termasuk generasi « tengah-tengah » untuk saat ini. Konon, para penerjemah di era 80-an harus menempuh tes dengan datang ke kantor penerbit. Di masa saya memulai pun masih ada yang seperti itu, kendati jarang. Di akhir tahun 90-an, beberapa penerbit memasang lowongan freelancer di surat kabar. Agaknya hal tersebut tidak lagi dilakukan ketika jejaring sosial « merajalela » seperti sekarang ini. Seiring melesatnya kepopuleran FB dan Twitter, yang bisa dikatakan menyaingi televisi, akses informasi dan membina jejaring relatif makin mudah.

Sependek pengamatan saya, adakalanya penerbit mengumumkan lowongan di milis (yang saya ketahui hanya Bahtera). Di jejaring sosial bisa bervariasi: di grup FB, Twitter dengan mencantumkan link blog/situs, dan pernah juga di status FB. Dengan sendirinya, limpahan informasi menuntut kita selektif dan aktif menjenguk. Bergabung dengan grup FB/page penerbit, berarti harus rajin-rajin mengecek notifikasi. Perlu taktik sedemikian rupa agar newsfeed tidak tertimbun sehingga ketinggalan berita.

Sangat tidak disarankan menjadi anggota milis atau grup kemudian berseru-seru, misalnya di kolom komentar, « Kalau ada info lowongan, kabarin aku dong di Pin BBM sekian, e-mail anu, nomor sekian. » Tanpa bermaksud menggentarkan atau mempersengit « persaingan », siapa pun (termasuk editor in house atau admin) tidak berkewajiban mengabari kita. Pendek kata, kalau butuh, ya harus tekun mencari.

Hindari menjadi fast reader (dalam konotasi negatif) yang berprinsip « tanya dulu, baca kemudian ». Saya pernah membaca komentar status penerbit yang mengumumkan lowongan penerjemah freelance buku bahasa Inggris, bunyinya macam-macam. « Saya tinggal di luar kota, bisakah kerja di rumah? », « Buat bahasa apa ya? », dan lain sebagainya. Menjadi penerjemah buku butuh ketelitian, sedangkan sikap buru-buru seperti di atas justru bisa merusak nama baik kita. Bahasa gaulnya, bikin ilfil orang yang dikirimi lamaran.

Karena sifatnya tertulis, mau tak mau kesan pertama yang timbul berasal dari tulisan dan cara komunikasi kita. Katakanlah sewaktu penerbit jarang menyebarluaskan informasi lowongan. Sebaiknya sebesar apa pun minat melamar, tidak perlu menjelekkan pihak lain. Contohnya, « Selama ini kulihat terjemahan buku-buku ABC mengecewakan deh, aku bisa jadi penerjemahnya kan… aku pasti bisa lebih baik. » Ini sama saja menuduh editor in house merekrut serampangan. Selain itu, bahasa alay bisa menghanguskan kesan pertama. Bukan berarti untuk selanjutnya boleh dipakai.

Kembali pada masalah teknis pencarian lowongan, kiat pertama yang disarankan Femmy masih bisa diterapkan. Google merupakan sumber data yang kaya. Tak sempat ke toko buku atau tak punya buku terbitan tertentu bukan lagi alasan tidak tahu alamat penerbit.

Bolehkah menghubungi editor langsung karena tahu akun Twitter atau FB-nya? Saya tidak menganjurkan ini. Kalaupun mau, hendaknya via japri. Amat disarankan membina hubungan lebih dulu dengan editor tersebut, misalnya berkomunikasi tentang keseharian, bertimpalan mention di Twitter, intinya memperlakukan sang editor secara manusiawi (bukan membidiknya sebagai target melamar demi kepentingan sendiri belaka) agar mereka mengenal kita. Kalau Anda jadi editor yang harus berhadapan dengan banyak orang di dunia maya dan nyata, tentu heran dan mengerutkan kening ketika tiba-tiba tanpa ba bi bu ada yang menyapa dan langsung bertanya, « Ada lowongan nggak, Mbak/Mas? »

Etika bisnis yang berlaku sampai kini: hindari memakai nama bercitra kurang profesional untuk id e-mail. Akun FB pun demikian. Cantumkanlah nama asli dengan lengkap. Editor in house tentu akan pikir-pikir jika dihubungi orang bernama « Galau Sepanjang Masa » dengan profile picture yang tidak jelas, apalagi memasang foto « lucu-lucuan » yang menimbulkan prasangka.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s