To Rome with Love (2012)

Seorang teman bilang, biasanya film buatan Eropa unik, tidak mainstream, dan sangat « nyeni ». Buat saya, kadang saking nyeninya, saya tidak ngerti. Dulu saya pura-pura mengerti, tapi lama kelamaan membiarkan saja. Barangkali memang ada bagian yang tidak perlu dipahami.

To Rome with Love jelas bukan komedi romantis yang lazim, tidak sekadar menguarkan aroma percintaan dengan pemeran yang cukup banyak. Setelah beberapa saat, saya memutuskan paling tertarik menyimak kisah gadis Amerika yang hendak menikah dengan pria Roma. Yang terjadi bukan hanya benturan budaya, melainkan keberseberangan antarbesan. Ayah si gadis Amerika (Woody Allen) yang bergerak di industri hiburan sulit cocok dengan calon menantunya yang pengacara probono, pembela kaum papa, dan tidak mengejar materi. T

ahu-tahu ada kemenarikan besar: sang calon besan bersuara emas dan layak menjadi penyanyi opera. Susah payah si pria Amerika membujuknya agar mau mengomersialkan suara itu, sekalipun dia hanya penyanyi kamar mandi. Istri sang pencari bakat sendiri, seorang psikiater, meyakini dia semata mencari kegiatan karena tidak rela pensiun.

Pesannya kentara: tidak semua orang menghendaki limpahan uang dan ketenaran. Profesi seperti sang pemilik suara emas pun, yakni pengurus jenazah, tampak membosankan namun dia bahagia. Istimewanya, godaan « kesempatan yang perlu disambut » dihadapi dengan tidak biasa oleh pria tersebut.

Efek buruk ketenaran dipaparkan dalam kisah lain, pria bernama Leopoldo Pisanello yang entah kenapa mendadak disorot kamera dan diwawancarai sekecil-kecilnya sampai dikuntit ketika bangun pagi. Tadinya saya mengira ada kekeliruan, tertukar dengan seseorang, atau semacamnya. Namun kisah Leopoldo mengandung sindiran bahwa kadang media seperti mencari-cari bahan dan objek untuk dibombastiskan, mengangkat kehidupan seseorang, lalu menjatuhkannya seketika. Leopoldo mengalami itu setelah menikmati sisi menguntungkan kepopulerannya.

[spoiler] Itulah ide gilanya. Dia tidur dengan banyak perempuan yang mengagumi, bergantian, tapi istrinya tahu dan tidak keberatan. [/spoiler] Atau mungkin manusia sudah banyak yang demikian, yang penting « ngetop ».

Sebenarnya kisah pertemuan Jack (Jesse Eisenberg) dengan John (Alec Baldwin) menarik juga, namun akhirnya mudah ditebak. Karena agak aneh, saya sempat mengira John hantu belaka.

Masih ada satu lagi, pasangan pengantin baru yang hendak menetap di Roma dan berkenalan dengan keluarga besar suami. Nahasnya, si istri tersesat ketika akan mencari penata rambut. Berlebihan memang, namun bisa saja terjadi. Si suami terpaksa memperkenalkan wanita penghibur yang nyasar ke kamarnya (Penelope Cruz). Bagian kocaknya bagi saya ketika [spoiler] si wanita penghibur diajak ke tempat ramai lalu bertemu relasi keluarga pria muda itu, yang ternyata rata-rata pelanggan tetapnya [/spoiler]. Ending-nya pun « gila ».

Bagaimanapun, film ini cukup menghibur.

Skor: 3/5

Sumber poster: flixster

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s