This is 40 (2012)

Benarkah pameo life begins at forty? Apakah itu berarti masa-masa sebelumnya tidak penting? Bagaimana dengan mereka yang meninggal sebelum usia tersebut?

Bagi Debbie (Leslie Mann), angka ini begitu krusial. Jelas, Pete sang suami (Paul Rudd), terkena imbasnya. Debbie dilanda kegelisahan, merasa perlu membenahi banyak hal. Ia memutuskan berhenti merokok, meminta Pete stop makan manis-manis, padahal selama ini Debbie sudah olahraga rutin dan Pete sendiri bersepeda. Ibu dua anak itu berupaya memalsukan umur, merasa diri tidak menarik lagi, kemudian mencoba berdekat-dekat dengan pegawainya, Desi (Megan Fox) yang spontan dan tampak menjalani gaya hidup lebih ceria.

Kesukaan Debbie akan musik masa kini membuat senang kedua putri mereka, Sadie dan Charlotte. Kontras dengan Pete yang menjalani bisnis musik dan masih terhanyut nostalgia, membutakan diri pada tren. Saat-saat itu Pete merasa amat sendiri, sehingga bahkan mengurung diri di kamar mandi untuk main game di gadget. Masalah ini saja sudah melebarkan jurang antara dirinya dengan Sadie yang beranjak remaja.

Catatan menarik: di usia 40, suami-istri ini sudah memiliki usaha sendiri. Masing-masing.

Persoalan datang berombongan. Debbie kehilangan uang 12 ribu dolar di tokonya, berusaha menyelidiki kedua pegawai. Bisnis Pete merosot dan timbul masalah keuangan. Keduanya mencoba meluangkan waktu untuk berlibur berdua, bersenang-senang melupakan diet, dan hasilnya malah menambah kerisauan Debbie. [spoiler] Ia hamil dan tidak berani langsung memberitahu Pete, mencoba memancing-mancing, lalu kecewa dengan reaksinya [/spoiler]

Pelajaran: Lebih baik langsung bertanya atau bicara daripada menduga-duga, demi kebaikan hidup berpasangan.

Konflik timbul antara pasangan ini dengan anak-anak mereka. Percekcokan Sadie dan Charlotte sudah jadi makanan sehari-hari. Perubahan pola makan yang diterapkan Debbie membuat kesal Sadie, yang seperti kebanyakan remaja lainnya sedang sangat hobi menantang. Di sinilah terpampang masalah-masalah pola asuh masa kini, ketika remaja membandingkan aturan di rumah dengan di rumah temannya, menganggap orangtua lain lebih asyik, dan tidak ketinggalan urusan pembatasan online serta menggunakan peralatan berteknologi modern. Debbie dan Pete lintang pukang menerangkan pentingnya bersosialisasi, mencari-cari aneka hal yang bisa menjadi pengganti kegiatan online untuk putri mereka, sekaligus merukunkan keduanya sedapat mungkin. Makin terang bagi saya, harus bagaimana menghadapi remaja yang karena fase hormonal (?) begitu pemarah, pembangkang, dan meributkan hal-hal yang bagi orang dewasa tampak sepele. Mungkin akan begitu juga setelah mereka menjadi dewasa. Saya menyerap betul meski masih tercengang, ketika Debbie bertanya, « Apakah jadi masalah kalau kau tidak nonton Lost? » lalu dijawab Sadie, « Ya, gara-gara dihukum, aku ketinggalan sekian episode! »

Apakah saya sememusingkan itu semasa remaja? Bisa jadi. Bila dulu sudah era ponsel dan sebagainya, mungkin orangtua saya jantungan dan lebih stres.

Pelajarannya: harus tegas dan kompak sebagai orangtua, terutama menyangkut peraturan. Mereka sendiri tidak tahu apa maunya, harus bagaimana. Sadie bersikeras dirinya bukan anak kecil lagi, namun [spoiler] dia berurai air mata menceritakan tokoh film seolah benar-benar ada, membuat saya geli dan kasihan pada Pete di hari ulang tahunnya [/spoiler]. Kekompakan Pete dan Debbie layak diacungi jempol, saya terpingkal-pingkal sewaktu mencomot pelajaran agar tidak terpengaruh seorang ratu drama yang ternyata lepas kendali kemudian menimbulkan masalah bagi diri sendiri.

Masih ada ketidakcocokan pasangan ini dengan mertua masing-masing, tepatnya ayah mertua yang sama-sama punya keluarga. Ayah Pete  menikah lagi dan punya anak kembar tiga, sedangkan ayah Debbie belum lama bertemu putrinya.

Alur terasa agak pelan karena banyaknya tokoh dan masalah, namun saya bisa menikmati dan meresapinya. Senang sekali mengetahui film ini sesuai ekspektasi saya, salah satu cerita yang dapat dijadikan wadah berkaca. Semua yang hidup bisa berkembang dan berubah, namun harus dihadapi. Seperti kata Debbie,

We are in it together, we are a team.

Belakangan saya baru tahu film ini sekuel Knocked Up, tapi belum menontonnya tidak jadi kendala untuk mencerna.

Pete: « Did you ever think marriage would get easier? »
Barry: « No it gets harder, much harder. »

Skor: 4,5/5

Sumber foto: wcfcourier.com

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s