The Ivy Chronicles

ivy

Penulis: Karen Quinn

Penerjemah: Sujatrini Liza

Penerbit: C Publishing, 2007

Tebal: 446 halaman

Ivy Ames didepak secara tidak terhormat oleh atasannya, Drayton Bird, dengan alasan rasionalisasi setelah empat belas tahun bekerja. Sesampai di rumah, ia mendapati suaminya berselingkuh dengan Sassy, istri Drayton. Tanpa berpikir panjang, Ivy langsung mengusir laki-laki yang sekian lama dihidupinya sejak menganggur itu.

Setelah mencoba melamar ke sana-kemari, bahkan membuat rekaman video untuk diajukan dalam partisipasi sebuah acara TV, Ivy memutuskan untuk realistis. Putri sulungnya, Skyler, sakit hati lantaran tidak diundang ke pesta anak perempuan Sassy dan Drayton yang satu sekolah dengannya. Meski merasa ditampar keras, Ivy harus menerima tawaran Sassy untuk membeli apartemen mewahnya dengan harga jauh di bawah standar pasar karena harus segera memulai hidup baru di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Kendati tidak seglamor Park Avenue, Ivy ternyata cukup senang di kediaman barunya. Tetangga-tetangganya cukup atentif. Di antaranya Archie si Tukang Kayu Telanjang yang populer, Philip Goodman seorang penulis muda yang meraih National Book Award untuk novel perdananya, dan Michael yang membuka restoran di lantai dasar serta kerap dikunjungi selebritis. Dengan bantuan Faith, sahabat karibnya, Ivy memulai bisnis selaku penasihat pendaftaran sekolah swasta untuk anak-anak usia empat tahunan.

Fenomena prosedur sekolah swasta yang rumit sekaligus sangat mahal, karena dipandang eksklusif, ini mengingatkan saya pada kondisi pendidikan di Indonesia. Untuk masuk taman kanak-kanak saja, para orang tua harus menulis esai yang meyakinkan, menempuh wawancara, dan memperoleh rekomendasi dari direktur pra-sekolah. Masih banyak pertimbangan lain, seperti kemampuan menjadi donatur dan memiliki hubungan darah dengan alumni atau murid sekolah bersangkutan. Ivy memulai dari koneksi pertamanya, Tipper Bouquet, yang juga mantan pegawai bank Myoki.

Sepak terjang Ivy, yang tentu saja tidak langsung mulus, ini terpapar dengan sangat baik. Secara gamblang, Karen Quinn mengemukakan betapa pelik tahap-tahap yang harus dilalui Ivy untuk membangun imej sebagai penasihat berwawasan, bahkan ia mengelabui orang guna memperoleh bocoran informasi di sana-sini. Serba-serbi profesi Ivy yang cukup unik bergulir lincah dikarenakan sang penulis pun pernah menekuni bidang konsultan tersebut.

Lingkup karier Ivy yang relatif tidak biasa merupakan nilai tambah The Ivy Chronicles. Sejumlah pelajaran mengenai profesionalisme ditebarkan sepanjang cerita. Ivy sengaja membatasi klien karena menurutnya, bila ia menjalankan tugas sebaik mungkin, klien berikut akan datang dengan sendirinya. Sebagai ibu dan wanita, ia berkomitmen untuk berusaha membantu para klien dan anak-anak mereka. Ada yang memang sangat pintar, ada yang kekurangan perhatian orangtua, ada yang patut sekali memperoleh kesempatan. Klien Ivy berbagai-bagai, di antaranya pasangan lesbian yang mengadopsi anak kulit hitam berkursi roda dan seorang pelayan yang rela menghabiskan tabungan seumur hidupnya asalkan sang putra memperoleh pendidikan yang layak. Masih ada seorang gembong mafia perayu dan seorang pria sok kuasa yang senantiasa melontarkan ancaman kepada Ivy jika tidak memenuhi tuntutan-tuntutannya hanya karena ia bekerja pada Steven Lord, padahal atasannya itu adalah suami Faith. Perasaan Ivy campur aduk antara kebutuhan materi dan hati nurani kala seorang miliuner menjanjikan satu juta dolar agar mencegah cucunya masuk sekolah Yahudi meski dalam tubuhnya mengalir darah Yahudi dari sang menantu perempuan.

Kesegaran chicklit satu ini terletak pada kehidupan Ivy sebagai seorang ibu, yang relatif jarang diangkat dalam genre pop lebih-lebih terkait lingkungannya yang sama sekali tidak gemerlap. Wanita Yahudi yang cukup taat tersebut bukan satu-satunya karakter yang kuat, sebut saja Ollie Pou pelayan Lilith yang tidak tinggal diam oleh perlakuan semena-mena majikannya. Sebagaimana buku bergenre serupa, Ivy dikisahkan terlibat asmara dengan Philip. Namun di sinilah kelihaian Karen Quinn lainnya terungkap, mengemas cinta segitiga dan menyimpan kejutan yang menarik.

Secara umum, penyuntingan dan terjemahan tergolong cantik sehingga The Ivy Chronicles, yang sempat mengalami cetak ulang, bertambah mengalir dan sukar diletakkan sebelum tuntas. Saya dibuat tergelak-gelak oleh kepolosan dialog kanak-kanak ala Kate dan Skyler, terutama saat mereka memprotes Ivy karena terlalu memedulikan klien.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s