Sebelas Tahun Menjadi Freelancer Penuh

Saya tidak ingat tanggal persisnya, tapi bulan ini pada tahun 2002 saya mengundurkan diri dari kantor karena harus konsentrasi menghadapi sidang akhir. Mas Agus sudah berhenti tahun sebelumnya, sekitar beberapa bulan setelah kami menikah. Berikut beberapa catatan yang masih saya ingat dalam perjalanan kami sebelas tahun ini dan mungkin berguna.

  • Pada saat-saat tertentu, multitasking tidak dapat dilakukan. Sewaktu bimbingan intensif untuk persiapan sidang, mendaftar, dan berbagai urusan lainnya perlu dikedepankan, saya bukan hanya tidak bisa bekerja kantoran. Saya juga tidak sempat mengerjakan tugas-tugas sebagai freelancer. Jadi selain mengundurkan diri dari kantor, saya menghubungi para klien dan menyatakan berhenti. Salah satu klien menanyakan apakah kira-kira dapat kembali bekerja sama seusai wisuda, namun setelah itu tak mengontak lagi.
  • Sebenarnya masih ada satu proyek bulanan berjalan, yakni menulis untuk majalah. Tetapi menjelang wisuda saya, majalah itu resmi berhenti terbit. Itulah latihan « antipanik » yang amat berharga bagi saya. Saya belum lupa, kompensasi terakhir yang saya anggap « pesangon » diterima tepat sebelum Lebaran. Waktu itu kami tetap dapat bantu-bantu keluarga dan menyaksikan fenomena yang mungkin tidak mengherankan lagi zaman sekarang: orang berbelanja pakaian seperti beli bawang.
  • Alhamdulillah, salah satu « parasut antipanik » saat itu ialah wejangan dan pembekalan dari seorang senior yang menuturkan pengalamannya « kehilangan » klien tetap setelah enam bulan cuti melahirkan dan beradaptasi dengan ritme harian baru. Sebenarnya bukan « kehilangan » seratus persen, namun ketika mulai lagi beliau harus merintis lagi nyaris dari nol dan membangun jejaring serta memikirkan alternatif-alternatif lain.
  • Pesatnya media sosial yang mematikan milis selaku salah satu wadah komunitas dan berjejaring tak ubahnya aneka layanan internet murah dari operator yang merontokkan sejumlah besar warnet. Meski tidak berarti « rindu » koneksi lambat, malam-malam mengoprek blog gratisan di Geocities dan begadang sampai dinihari di warnet untuk mengerjakan proyek terjemahan berbau IT sungguh kenangan manis bagi saya.
  • Seiring munculnya FB, menjamurlah antologi dan penerbitan indie. Saya sempat terkaget-kaget akan melimpahruahnya bunga rampai tersebut, walaupun pernah terlibat dan sudah mengenal genre itu sebelum FB mengemuka.
  • Dulu saya hanya tahu satu hal: dalam kepenulisan buku, saya lebih mampu menggarap nonfiksi. Tatkala pintu menjadi penulis kian terbuka lebar mulai dari banyaknya lomba, menulis dengan sistem order, dan seleksi-seleksi kreatif yang tidak terpikirkan di masa sebelum medsos, saya semakin tahu dinamisnya dunia pekerja lepas ini sekaligus mengenal diri sendiri. Menulis buku dengan sistem order dan ber-deadline bukan untuk saya, menjadi resensor online yang aktif pun sudah tak bisa lagi.
  • Pernah terjun sebagai pekerja lepas tidak menjadikan kami « kebal » dari peristiwa tidak mengenakkan. Masih ada proyek yang batal di detik-detik terakhir, ditelikung rekan berwirausaha, kemacetan pembayaran, serta beberapa pengalaman yang menjadikan kami lebih berhati-hati. Salah satunya ketika kena hipnosis lewat telepon.
  • Sependek pengalaman kami, hal paling pasti dalam kepekerjalepasan adalah masa-masa sepi order. Empasan paling dahsyat adalah tahun 2005-2006. Kami menikmati lagi belanja ke warung dengan tabungan receh seratusan, setiap kali dapat pemasukan kemudian bisa beli gula dan kopi sudah sangat menggembirakan. Tawaran mengajar kembali tidak bisa saya terima, karena jarak tempat tinggal dan lokasi mengajar tidak memungkinkan sehingga saya khawatir tidak maksimal.
  • Terakhir kali Mas Agus mempertimbangkan kerja kantoran lalu mengirim lamaran: tahun 2003. Agaknya Tuhan menakdirkan kami menjalani dunia kerja lepas ini. Pasalnya, tawaran kerja yang Mas Agus terima sekitar tahun 2004 (kalau jadi, kami harus berpisah kota) batal. Saya pernah memikirkan ngantor lagi, ketika suatu siang tanpa sengaja mendengar tetangga yang sama-sama ngantor berkata kurang-lebih, « Baru dua minggu, duit gaji sudah habis. » Yah, sama saja bingung dan lintang pukangnya. Lebih baik saya bingung sambil putar otak di rumah, deh.
  • Tinggal di wilayah beriklim wirausaha tinggi adalah keputusan terbaik kami sejauh ini. Kami bisa belajar dari tetangga yang penarik ojek, penjual jasa pijat, pekerja bangunan, petani, peladang, dan peternak kelinci. Semuanya menginspirasi, menyiratkan pesan penting: sekali-sekali jatuh tak mengapa, yang penting segera bangun lagi. Tidak perlu malu disamakan dengan para pedagang barang dan jasa, apa pun bidangnya. Kalau masih gengsian, tidak usah jadi freelancer sekalian.
  • Proyek pertama setelah menjadi freelancer lagi: menulis dan mengembangkan cerita komik independen.
  • Hidup sehat adalah mengurangi keinginan.
  • Akhir kata, tak penting apakah tanggal tua, tanggal muda, tanggal merah, hari Senin atau bukan. Sebaik-baik awal bulan adalah ketika semua kewajiban, termasuk bayar listrik, sudah dilunasi.
Publicités

7 thoughts on “Sebelas Tahun Menjadi Freelancer Penuh

  1. Sebaik-baik awal bulan adalah ketika semua kewajiban, termasuk bayar listrik, sudah dilunasi. >> Ini penting banget!

    Salut buat Rini dan keteguhannya menjadi freelancer penuh. Gak semua orang berani mengambil keputusan itu. You are a good role model. TFS.

  2. “Baru dua minggu, duit gaji sudah habis.Kalimat penyemangat untuk setia di jalur Freelance. Terima kasih, tulisannya sangat menginspirasi…..

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s