Menerjemahkan Deskripsi

Mereka melewati sebuah jembatan dengan aliran sungai di bawahnya. Air memantulkan bayangan tanaman crocus dan mawar. Kereta juga melalui sebuah kolam berpagarkan rindangnya pohon pir dan maple. Katak bersahut-sahutan dengan nyaring.

Itu terjemahan pertama saya yang mengandung banyak deskripsi. Saya kadang heran sendiri bagaimana bisa lancar menerjemahkan bagian yang menggambarkan alam, pemandangan, situasi ruangan, dan lingkungan. Jujur saja, ini jarang terjadi. Sewaktu membaca buku, saya lebih sering melompati bagian tersebut. Kalaupun ada yang penting, saya baca kalimat intinya saja. Bukan berarti tidak suka, namun saya lebih mampu menikmati deskripsi panorama secara visual. Saya kerap kesulitan menggambarkannya dengan kata-kata.

Memang deskripsi tidak selalu bicara keindahan, misalnya seperti ini:

Malam telah kelam. Tak seorang penduduk desa pun keluar rumah. Kesenyapan datang sejak petang meremang.

Saya masih dibantu suami memolesnya:D

Dalam bincang-bincang dengan tim editor suatu penerbit beberapa tahun lalu, saya sempat melontarkan komentar personal, « Buat apa sih deskripsi sepanjang itu? Kadang suka nakal mikir, ah pembaca paling juga nggak memperhatikan. » Chief Editor di sana menanggapi, « Itu termasuk gaya, biasanya ada penulis yang memang mendayu-dayu dan « hambur » tapi tetap harus kita terjemahkan. Harus diakui, ada juga deskripsi yang perlu dan penting untuk jalan cerita. »

Saya masih tersendat-sendat mengalihbahasakan deskripsi alam, namun tidak terlalu « macet » di bagian fisik. Contohnya,

Mereka mengenakan seragam Winterdown asal-asalan, terlalu serampangan dan banyak variasi sehingga tidak mirip seragam sama sekali (tidak seperti St. Anne, yang terdiri dari rok tartan dan blazer rapi). Walaupun demikian, si gadis berkulit putih tampak memesona, berlian berpotongan sempurna yang diredupkan oleh anak perempuan Jawanda yang hambar, namanya pun Howard tak ingat, dan pemuda berambut tikus dengan kulit rusak bukan kepalang.

Ketika bertemu deskripsi masakan, tak ayal saya kalang kabut. Lagi-lagi suami menjadi bala bantuan andal.

Menu pesta pernikahan Muslim ala India Selatan selalu sama: biryani daging domba, brinjal dan makanan tambahan labu botol sebagai saus dan kelapa serta raita bawang. Lama setelah segalanya dilupakan dan mempelai wanita menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak dewasa, biryani masih diingat dan digunakan untuk menilai kualitas perayaan pernikahan. Paling tidak dagingnya harus sama banyak dengan nasi, lebih disukai satu setengah kali atau bahkan dua kali lipatnya, bila keluarga itu mampu. Idealnya, beras tersebut dari jenis Basmati, tetapi hanya beberapa keluarga yang mampu membelinya, maka varietas lokal yang bulirnya panjang dan tipis pun berterima. Namun daging dan beras saja tidak cukup. Diperlukan keahlian juru masak dan kombinasi yang tepat dari bawang, cabe, ghee, garam, bumbu masak-cengkeh, cardamom, cinaamon, biji ganja, jahe, bawang putih dan sejumlah besar lainnya- diolah pada kurun waktu yang tepat dan suhu yang tepat pula.

Deskripsi kostum dan kosmetik mengharuskan saya berpayah-payah riset dan menyadarkan betapa « kurang perempuannya » saya. Baru di City of Masks, saya merasakan lagi kemudahan menerjemahkan bagian tersebut.

Ia mengenakan gaun merah menyala dan topeng berbulu yang mereka lihat di cermin Rodolfo beberapa detik sebelum ledakan. Meskipun dinodai sedikit debu dan sejumlah sarang laba-laba yang menempel di lowong rahasia, fisiknya tak cedera. Batu rubi berkilau di leher dan telinga sang Duchessa dan kipas yang masih dipegangi wanita itu terbuat dari renda semerah darah.

Toh, tak pelak saya mengacungkan jempol pada para penulis yang berupaya menghadirkan deskripsi lokasi dan aneka perniknya itu dalam cerita. Selain itu, sewaktu menjadi editor, saya tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati terjemahan semacam ini:

Api menjalar mengikuti jalur-jalur sungai di rawa dan dipantulkan permukaan air yang gelap dan tenang, sehingga sepertinya lidah-lidah api itu menjulang ke udara sekaligus membakar di kedalaman. Kulihat burung-burung beterbangan menghindari api, panik dan hilang di langit malam. Rerantingan pohon-pohon yang meranggas terbakar, namun mobil pemadam kebakaran sekarang sudah hampir berhenti, dan tak lama selang-selang air akan disemprotkan ke pepohonan itu, sehingga mungkin mereka masih bisa diselamatkan. Musim dingin yang lembap membuat api lebih mudah dipadamkan, tapi rumput-rumput yang terbakar masih akan berbekas selama berbulan-bulan, hangus yang mengingatkan akan kerapuhan tempat ini.

 

 

Publicités

4 thoughts on “Menerjemahkan Deskripsi

  1. Paling nelangsa kalau harus menerjemahkan deskripsi nama-nama barang yang tidak ada padanannya di kosakata Indonesia. Pernah sekali harus menerjemahkan deskripsi tempat tidur jaman dulu, kalang kabut nyari padanan ‘dust-ruffle’ dan teman-temannya :p

    TFS, mbak.. 🙂

    1. Untungnya, kalau menangani deskripsi, kita bisa mendeskripsikan benda-benda yang namanya tidak punya padanan. Paling repot kalau nama benda itu jadi istilah yang digunakan berulang-ulang. « Terpaksa » harus pakai salah satu strategi yang disebut oleh Mona Baker di bukunya.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s