Belajar Memahami Klien

Setiap kali memperoleh relasi baru, saya bersemangat antara lain karena mempelajari selingkung dan tata tertib yang berbeda. Ini mirip semacam pengetahuan yang diperoleh ketika bertandang ke suatu tempat.

Salah satu bagian tata tertib yang dimaksud adalah SPK. Sebagaimana yang dijelaskan di sana, SPK bisa satu halaman ringkas dan bisa saja tebal/berhalaman-halaman sehingga lebih cocok disebut kontrak. Pasal-pasal di dalamnya pun tidak selalu sama.

Perlu diketahui, saya tipe orang iseng yang gemar mengamati tulisan kecil-kecil. Ketika menunggu hasil install PC di meja sebelah, contohnya, saya membaca uraian di bagian belakang bon perusahaan jasa pengiriman. Sudah barang tentu, membaca kontrak/SPK sangat penting agar tidak ada poin yang ketinggalan dimengerti.

Suatu waktu, ada kontrak yang teramat rinci. Tebalnya sih sama saja dengan penerbit lain yang memberlakukan aturan mirip. Namun ada pasal yang « baru » saya dapati tertera, di antaranya seluruh isi harus diterjemahkan termasuk daftar isi, catatan kaki, keterangan gambar, dan tabel (saya perkirakan indeks seperti buku ini pun tercakup). Di pasal lain, ditegaskan bahwa seluruh peralatan kerja ditanggung sendiri oleh penerjemah.

Dalam benak saya, rata-rata penerjemah buku sudah mengetahui hal ini sebagai aturan tidak tertulis. Namun agaknya kontrak perlu disampaikan secara sedemikian rinci karena pernah ada pihak-pihak yang mengajukan pertanyaan, misalnya karena belum pernah menerjemahkan untuk penerbit satu kali pun.

Ini diiringi prosedur administrasi yang meliputi beberapa kali penandatanganan. Yang paling saya ingat ialah pernyataan bahwa pencantuman nomor rekening bank yang keliru bukan kesalahan penerbit. Hal tersebut mengingatkan penerjemah cermat memeriksa data sebelum dikirim dan dokumen menjadi bukti tertulis bagi kedua belah pihak, intinya sama-sama untung.

Bisa jadi prosedur tersebut ruwet, namun saya teringat ucapan seorang relasi sewaktu menjadi freelance web copywriter, « Pada tingkat tertentu, karyawan yang berpengalaman seyogianya memahami perusahaan, mencari cara agar perusahaan tetap hidup, bukan sekadar menerima gaji dan mementingkan perut sendiri. » Sama halnya dengan kondisi kepenerjamahan ini, sudah sepantasnya seiring waktu freelancer memahami klien (dalam hal ini penerbit). Mungkin saja pernah terjadi kesalahpahaman (dalam komunikasi) yang perlu dihindarkan agar tidak terulang, dan sangat lumrah mengingat saya belum pernah bertemu muka dengan penerbit tersebut. Hanya bermodalkan e-mail, nomor telepon, dan data tertulis lain. Bukan berarti sudah berjumpa jadi jaminan komitmen dan tanggung jawab, memang.

Ihwal tak wajib bertemu muka ini, saya harus sangat bersyukur. Sedikit bocoran, salah satu kolega in house pernah bercerita bahwa data rekanan memang senantiasa diperiksa teliti. Pasalnya, pernah terjadi ada penerjemah yang gugur (bahasa hukumnya wanprestasi, kalau tak salah) dan diputus kerja samanya melamar lagi ke penerbit dengan nama samaran.

Singkat kata, « jurus » tak lekang masa dalam bekerja lepas adalah merawat kepercayaan.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s