Bukan Salah Senin Mengandung

Sampai hari ini, perkataan « I love Monday » belum dapat mengalahkan slogan lama « I hate Monday ». Kita bersorak ketika Senin ternyata tanggal merah. Kita lebih bersemangat kerja (atau tepatnya merancang liburan) tatkala Senin menjadi harpitnas seperti ketika saya menulis postingan ini. Senin kerap disumpah-serapahi, jadi sumber keluhan yang bisa dimulai sejak Minggu sore.

Penyebabnya jelas, Senin adalah hari kerja pertama. Bukan rahasia lagi, segala sesuatu yang bersifat permulaan kerap terasa berat. Ini semakin menjadi sejak sekolah dan kantor memberlakukan libur (tepatnya akhir pekan) sejak Sabtu. Tentu saja masih ada satu-dua yang masuk hari Sabtu, katakanlah setengah hari.

Ketika menggali-gali sejarah « sebal Senin » ini, saya tidak memperoleh hasil memuaskan. Saya tersandung pada beberapa informasi, salah satunya di sana, bahwa penguat slogan I hate Monday adalah Garfield. Pikir-pikir, benar juga. Saya baru sadar bahwa kebanyakan gambar, kartun, karikatur, dan sebagainya yang berbau membenci Senin bertokohutamakan si kucing pemalas. Seperti di bawah ini:

Source: Vijay Javali’s blog

Mencintai Senin barangkali sulit karena tidak lazim. Harus diakui, kita mudah terpapar « tren » sehingga ikut-ikutan tak suka Senin. Freelancer sekalipun tak sedikit yang menjadikannya hari kerja pertama. Ini dikarenakan misalnya, pasangan bekerja kantoran dan ada acara keluarga yang membutuhkan perhatian serta energi di akhir pekan.

Saya sendiri kerap menghindari keluar rumah untuk keperluan tertentu di hari Senin. Ke bank, contohnya. Urusan-urusan yang tertunda di akhir pekan (disadari atau tidak, sebenarnya akhir pekan kadang jadi semacam « penghalang ») harus ditunaikan sesegera mungkin ketika Senin tiba. Pastinya antrean panjang. Belum lagi macet di perjalanan. Timbullah khayalan, andai bank melayani nasabah di Sabtu-Minggu juga, di setiap cabang. Nah, mulai kelewatan. Karyawan bank pun butuh berlibur dan beristirahat.

Jika « memaksakan diri » dengan menepis sugesti Senin, ternyata paranoia itu dapat ditaklukkan. Tadi siang kami tetap keluar rumah. Memang bukan ke bank, hal tersebut tetap ditunda lusa atau hari berikutnya. Lantaran mendengar menteri akan datang ke kota sebelah, kami mengambil jalan pintas. Begitu lihat jalan raya, ternyata tidak terlampau macet. Kami sempatkan belanja bulanan, juga lancar. Agaknya karena tadi sekitar jam dua siang. Kami yakin bukan pengaruh tanggal tua, tengah bulan, dan sejenisnya sebab toh di pusat kota (terkhusus wilayah utara) tetap macet luar biasa.

Bila hari kerja mulai Rabu, karena kemarin-kemarinnya libur, mungkin lebih semangat karena terasa pendek. Benarkah? Pekerjaan yang harus tuntas satu minggu dipersempit waktunya. Libur tidak semestinya menjadi alasan terlambat, meski kenyataannya sering begitu. Saya baru mengerti mengapa di tempat saya bekerja dulu, liburnya tidak dipatok saklek hari Sabtu-Minggu. Karyawan baru boleh memilih satu hari libur dalam seminggu. Katakanlah Jumat, sehingga saya ada di rumah seharian tiap Jumat selama masa percobaan. Setelahnya, saya boleh memilih libur hari apa saja. Asalkan hanya satu hari. Dengan demikian, masuk hari Minggu pun tidak janggal.

Apa enaknya libur di saat orang lain tidak? Ini dialog yang saya ingat betul dari sebuah film Korea. Sekali lagi tampak hobi kita untuk ikut-ikutan. Libur bersama satu RT pun, bukan berarti akan melewatkan waktu bareng-bareng. Bisa saja saya milih mencuci lalu tidur sepanjang sisa hari itu, sedangkan tetangga menjenguk orangtuanya, tetangga lain kondangan, tetangga lainnya lagi jalan-jalan.

Kembali pada hari Senin tadi. Mungkin sikap menyukai hari tersebut akan sangat mudah ditumbuhkan jika Senin merupakan hari gajian. Sungguh saya ingin tahu seberapa besar pengaruhnya apabila hari itu karyawan harus turun ke lapangan, atau rapat rutin. Tapi tetap gajian.

Tetap saja ketidaksukaan pada Senin perlu disesalkan. Tanpa Senin, tak ada Selasa dan hari selanjutnya. Senin tetap akan tiba, berapa lama pun kita berusaha memperpanjang Sabtu dan Minggu.

Jurus yang dapat dicoba adalah menanamkan sugesti positif. Mengingat hal-hal baik yang pernah terjadi di hari Senin, semisal mendapat proyek baru yang menarik. Usahanya ekstra tapi menurut saya pantas dilakukan, demi menepis « memusuhi Senin » yang telanjur menyebar. Sebab kalau dipelihara atau dibiarkan, rasa malas tetap akan muncul di hari apa pun.

Mari bersahabat dengan Senin. Tapi bila ingin seperti Garfield, itu terserah Anda.

Demikianlah postingan freelancer yang berusaha ramah terhadap akhir pekan dan tanggal merah:)

Publicités

4 thoughts on “Bukan Salah Senin Mengandung

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s