Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya (1)

« Enaknyaa, bisa rebahan, » kata seorang teman yang bekerja kantoran ketika tahu saya baru bangun tidur siang.

Ketika baru menjadi freelancer (lagi), saya sering tersinggung oleh ucapan semacam itu. Kadang terpikir berkata, « Enaknyaaa nggak boleh rebahan. » Namun komentar yang demikian, sering kali sambil lalu, sampai kapan pun akan tetap ada. Padahal semasa saya ngantor, tetap bisa rebahan sejenak kalau mau… di mushala. Terlepas dari enaknya tidur siang, bukan hanya itu alasan saya menjadi freelancer.

Tidak perlu tergesa-gesa bangun pagi di hari kerja agar tak terlambat dan terjebak macet memang sangat saya syukuri, namun tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang bekerja kantoran. Ini dalam arti luas, tentu saja. Bukan « golongan menengah ke atas » dalam arti jabatan manajer dan sebagainya.

Sepengamatan saya, kantoran zaman sekarang sudah tidak terpaku dengan jam kerja 8 pagi sampai 4 sore. Kalau ada rapat, bisa pulang larut malam. Kadang-kadang lembur di akhir pekan atau tugas ke luar kota. Di musim penyusunan laporan, adik saya sering menginap di kantor karena dia tidak suka membawa PR pulang.

Kembali ke soal macet, yang sepertinya sudah jadi makanan sehari-hari warga sejumlah kota. Tanpa pandang bulu, semua kena efeknya. Saya kagum sekali pada tetangga yang bekerja di toko komputer nun jauh di utara sana, padahal kawasan kediaman kami di timur. Ia harus berangkat jam setengah tujuh naik motor dan pulang tiap hari pukul sepuluh malam, karena menunggu toko tutup. Tanggal merah bukan berarti libur. Kurir langganan bercerita, kendati area yang menjadi tanggung jawabnya « hanya » satu kecamatan, ia pulang paling cepat pukul sembilan malam. Kadang hari Minggu masuk, agar tumpukan barang lekas berkurang dan pelanggan tidak menunggu lama.

Keduanya belum berkeluarga, memang, meski lajang tetap punya hak merasa lelah. Ada lagi yang berkantor di perbatasan kota (Cimahi). Sebelum ke kantor, bapak ini mengantar dulu putrinya yang bekerja di pabrik sekitar pukul lima pagi. Paling lambat setengah enam. Pulang lagi, berangkat pukul setengah tujuh. Kalau kemacetan sedang luar biasa atau turun hujan sehingga jalur bawah kebanjiran, ia baru sampai rumah sekitar pukul delapan. Pukul sembilan mengantar lagi putrinya kalau shift malam.

Bapak ini jarang sekali sakit. Tetapi sewaktu anak bungsunya bersekolah cukup jauh dari rumah, beliau berbagi tugas dengan sang istri untuk antar-jemput si bungsu. Antar-jemput si sulung tetap dilakukan sendiri. Di sinilah terbantahkan perkataan sementara orang (yang paling tidak saya sukai) jika suami bekerja kantoran sedangkan istri di rumah dan/atau bekerja di luar juga, « Laki-laki sih pulang kerja bisa langsung tidur, nggak peduli rumah acak-acakan. Perempuan mana bisa begitu. »

Dalam keluarga perlu dipupuk toleransi dan saling menghargai antara dua profesi berbeda ini. Bila tidak dibiasakan, dalam lingkup yang lebih luas pun akan terjadi ketidakharmonisan dan lebih parah lagi, persaingan tidak sehat. Saya pribadi belajar dari pekerja lepas yang lain, di antaranya tetangga yang pekerja bangunan, mengeluh tidak akan membuat kita « eksis ». Dimengerti atau tidak, profesi kita dianggap lazim atau tidak, yang penting kita bekerja sebaik mungkin. Ibarat mencari barang terselip, biasanya dapat ditemukan lebih mudah jika mencari dengan mata, bukan mulut.

Sebelum jadi kepanjangan, saya tutup dengan kesimpulan: sudah bukan zamannya freelancer mencari pengakuan. Tunjukkan saja dengan karya.

 

Publicités

4 thoughts on “Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya (1)

  1. Betul, sama baiknya, kok. Yang tidak baik adalah ‘keterpaksaan’, misalnya pengin kerja kantoran eh, kok ya nggak dapet-dapet. Pengin kerja jadi free-lancer, apa daya nggak ada ketrampilan. Selama kita bisa memilih dan menyadari semua konsekuensinya, kerja kantoran atau freelance sama enaknya 🙂

    *Enaknya kerja kantoran itu: bisa nggosip sama teman di kubikel sebelah hahaha.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s