Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya (2)

Dalam salah satu buku, saya pernah menulis seperti berikut dalam Kata Pengantar:

Buku yang ditulis pada tahun 2003 ini tidak bertujuan memprovokasi, membujuk, menghimbau, atau mengajak mereka yang sudah merasa nyaman dalam kemapanan dan karier di bawah bendera perusahaan untuk meninggalkannya, melainkan buah pikiran yang memuat berbagai pengalaman dan seluk-beluk dunia kerja independen serta diharapkan dapat memberi semangat pada mereka yang menggelutinya.

Melanjutkan postingan sebelumnya, saya ingin membahas pentingnya membiasakan toleransi ihwal dua profesi berbeda ini. Mulai dari keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil. Sependek pengetahuan saya, bila sudah sangat berakar dari keluarga, tidak akan terlalu « goyang » di lingkungan yang lebih besar.

Hobi membanding-bandingkan, yang acap kali menimbulkan persaingan tidak sehat, memang sifat manusia. Bukan hanya berlaku di kalangan freelancer terhadap pekerja kantoran dan sebaliknya. Sesama freelancer pun bisa dilanda kecemburuan sosial. Ada saja yang berkata, « Dia sih job-nya rutin lancar, sudah kayak langganan. »

Sebenarnya di situ mengandung pujian, ya nggak?:))

Atau ada juga yang protes frontal, « Kok dia boleh panjang deadline-nya, saya nggak? » Dan sebagainya. Selalu ada kalau mau mencari-cari.

Semasa kantoran, saya juga menemui kesukaran menjelaskan pekerjaan. Seperti dalam postingan Ayu, pertanyaannya, « Kerja di mana? » Tetangga yang bertanya di angkot saat itu tampak bingung sewaktu saya jawab, « Di perusahaan IT. » Memang dulu bidang IT belum terlalu populer. Namun saya tidak merasa « sendiri ». Sampai sekarang masih banyak orang tidak mengerti perbedaan psikolog dan psikiater, juga sales dan marketing.

Salah satu yang kerap dipermasalahkan adalah fleksibilitas. Pekerja lepas terkesan santai, bisa nongkrong-nongkrong di kafe sambil bekerja kalau mau, tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk busana resmi. Ini tidak seratus persen benar. Ada freelancer yang pe-we-nya kerja di rumah. Nongkrong di luar lebih cocok untuk ngobrol dan menikmati suasana. Biasanya karena mudah terdistraksi, seperti saya. Pembicaraan dipotong setengah menit saja saya langsung lupa, apalagi kerja di tempat yang hilir-mudik. Kadang kala ini tetap diusahakan (baca: terpaksa), meski kepala-kepala yang melongok ingin tahu bikin risi dan saya harus memanis-maniskan senyum lalu bilang, « I love to work in silence, » seperti kata pengurus kebun binatang di film We Bought A Zoo.

Bukan soal kenyamanan saja memang, namun sifat konfidensial pekerjaan. Ada klien ghostwriter kami yang meninjau ulang pertemuan di luar rumah dan mengubah lokasi di tempat tinggal beliau saja. Di tempat ramai, mau tak mau harus mengeraskan suara sewaktu mengobrol. Proyek bisa bocor. Saya mengamini itu sebab cukup sering mendengar pembicaraan yang semestinya bersifat internal di tempat umum, tanpa bermaksud menguping.

Ihwal anggaran belanja untuk baju, juga tidak semua pekerja lepas bisa cuek. Ada yang memang dari sananya hobi berpenampilan necis, baik karena sudah karakter maupun akibat keharusan bertemu banyak orang, harus mempunyai pos pengeluaran khusus. Sewaktu ngantor dulu, asisten project manager dan desainer boleh memakai jeans serta bersepatu kets. Pustakawati dan pengajar di sebuah lembaga bahasa asing pun demikian. Jadi tetap relatif.

Masalah jam kerja, rasanya banyak orang tahu bahwa freelancer bukan berarti berleha-leha. Kenalan saya yang narik ojek misalnya, setengah hari memang sudah pulang. Tapi dia mulai pukul lima pagi, mengantar langganan ke pasar. Separuh hari digunakan untuk pekerjaan lain, lebih-lebih jika pendapatan ojeknya minim hari itu. Tak berbeda dengan pegawai kantoran yang menempuh perjalanan jauh kemudian sesampai di rumah mencicil cucian dan setrikaan, atau menjaga anak sehingga baru tidur larut malam.

Perkara cuti pegawai yang « cuma » (rata-rata) 12 hari bisa jadi pemicu tudingan sebal pada pekerja lepas yang mudah meninggalkan pekerjaan untuk jalan-jalan atau urusan keluarga. Sering-sering « bolos », deadline freelancer bisa molor mengingat biasanya, usai liburan tidak bisa langsung melanjutkan kerja karena capek. Ini berisiko, kecuali kita bisa mengelola energi dengan baik. Jadi sebenarnya sama dengan pekerja kantoran yang menantang « bahaya » terkait kinerja dan penilaian bila kerap tidak masuk atau terlambat.

Masalah lain yang sering dibanding-bandingkan ialah pendapatan. Akan saya bahas di postingan selanjutnya.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s