Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya (3)

« Enak ya kamu, punya tunjangan dan bonus, » omel seorang freelancer kepada seorang pekerja kantoran.

Sekadar gambaran, mengurus tunjangan pengobatan sungguh memakan waktu. Banyak dokumen harus diisi, tempat yang didatangi, orang yang perlu dihubungi. Setiap tahun peraturan berubah, di masa perampingan wajar ada bantuan yang dikurangi. Memang lumayan dan tetap sepadan. Namun saya yakin, orang kantoran yang punya fasilitas bantuan pengobatan pun tidak ingin sering-sering ke dokter apalagi opname. Apa enaknya sakit?

Dalam hal pendapatan, tidak jarang pekerja lepas dan kantoran sama-sama tidak punya standar tetap. Sekitar 13 tahun silam, saya diberitahu bahwa patokan UMR (dulu belum UMK) untuk lulusan S1 adalah sekian rupiah. Saya tidak langsung memperoleh nilai itu ketika bekerja, karena tak punya pengalaman. Seiring dengan waktu, performa, dan kenaikan jabatan bila ada, pendapatan dan lain-lain akan bertambah. Idealnya demikian.

Pekerja lepas sama saja. Walau tahu « harga pasaran », contohnya, menentukan nilai kompensasi atau honor tidak bisa main gebuk. Banyak sekali aspek perlu diperhatikan. Semisal penerjemah buku. Umumnya tiap penerbit memberlakukan kenaikan honor setelah penerjemah mengerjakan beberapa buku, asalkan kinerjanya baik dan memuaskan. Mengutip Krismariana, sewaktu mengajukan kenaikan pun harus lihat-lihat situasi. Dengan cara tertentu, katakanlah ketika kita sudah akrab dengan klien, kita cari tahu kalau-kalau penerbitnya mengalami kelesuan finansial. Pada masa seperti itu, tentu tidak bijak meminta kenaikan.

Bahan « kesirikan » lain ialah fasilitas. Bekerja kantoran berarti mendapat peralatan dan adakalanya, koneksi internet. Ada masalah, tinggal minta tolong ke bagian IT. Namun saya yakin semua pegawai sadar (kalau praktiknya, tergantung individu bersangkutan) bahwa berlama-lama online di luar keharusan dan melebihi kebutuhan tugas bisa mencelakakan penilaian kinerja. Freelancer memang harus mengorek dompet sendiri untuk keperluan ini, karenanya tak salah menjadikan kemandirian itu suatu kebanggaan secara proporsional. Toh sama saja, kalau kita berlarut-larut online, pekerjaan bisa terbengkalai. Lantaran biaya perbaikan bisa mahal jika mondar-mandir ke reparasi, belum lagi ongkos transportasinya, kita jadikan pecut untuk belajar menangani sendiri. Setidaknya yang mendasar.

Memelihara kecemburuan sosial tak akan ada habisnya. Demi mengamankan pergaulan dan ketentraman bersama, kedua belah pihak perlu menjaga batas-batas berkelakar. Ada kerabat pekerja kantoran yang sedapat mungkin menghindari pembahasan pensiun di depan para pekerja lepas. Bila masih ada pertanyaan terlontar akibat « keanehan » profesi kerja rumahan, saya kadang memakai selorohan, « Saya kan pertapa profesional. »

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s