Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya (4)

Ketika menulis ini, saya sedang terharu. Anak perempuan tetangga kami, yang pekerja lepas, akan mengikuti training di luar kota. Program sekolah yang tidak memungut biaya, namun setidaknya anak itu memerlukan sedikit bekal. Berhubung ayahnya baru memulai satu proyek dan belum dibayar, tetangga lain yang bekerja kantoranlah ikut urunan membekali anak tersebut.

Warga sekitar, walau tak semua, cukup memaklumi pekerjaan kami. Apabila suami harus rapat RT sampai malam dan beberapa hari berturut-turut misalnya, ada tetangga bilang, « Jangan sampai kerjaanmu telantar lho. » Kadang jika suami masih di luar menjelang jam sembilan malam, salah satu tetangga menyuruhnya pulang. « Sudah waktunya buka kantor, Mas. »:))

Satu pertanda, kerukunan antara pekerja lepas dan kantoran sangat mungkin terjadi. Seperti halnya editor dan penulis yang « setara » serta tidak merasa lebih tinggi dari yang lain.

Beranjak ke pengalaman saya dengan orang marketing bank, ketika saya duduk-duduk menunggu suami di antrean teller. Bisa saja sih saya kesal karena diganggu, kendati ada rumus tenang « toh dia hanya menjalankan tugas ». Mau tak mau saya senyum-senyum menyaksikannya kebingungan menawari jenis tabungan apa sewaktu tahu kami berdua pekerja lepas dan belum punya anak. Kehabisan celah, mungkin. Saya enteng saja mengatakan punya rekening di bank lain, dan tidak marah karena toh dia sopan, tak memaksa.

Tidak sedikit orang kantoran yang memiliki pengertian terhadap dunia freelancer yang kadang berjam tidur jungkir balik. Salah satu kolega editor saya biasa menelepon ilustratornya siang-siang bila perlu, karena tahu rekanannya tersebut sering begadang dan masih tidur di pagi hari. Pernah juga saya ditelepon klien sewaktu tidur siang, untungnya sudah belajar dari suami untuk « menormalkan suara » sewaktu menjawab panggilan:))

Freelancer ada di mana-mana. Para pengemudi angkutan umum termasuk pekerja lepas menurut saya, hanya bidangnya yang berbeda. Namun orang kantoran perlu ada. Tak dapat dimungkiri perannya dalam kepekerjalepasan. Para editor in house, contohnya, merupakan relasi yang bekerja tetap. Dari tangan merekalah ada penunjukan pelaku proyek, penugasan berdasarkan kepercayaan, dan penilaian kinerja. Hebatnya, hampir semua memercayakan order tanpa perlu bertemu muka lebih dulu.

Begitu banyak tugas mereka, sehingga wajar saja memperoleh libur secara berkala. Tatkala editor yang biasa bekerja sama dengan saya mengundurkan diri, rasanya seperti memulai dari awal dan beradaptasi dengan editor yang menggantikannya. Persis perubahan tim kerja semasa ngantor.

Masih tidak puas karena jarang libur? Bayangkan bila semua orang di dunia ini ingin libur secara bersamaan. Contoh paling signifikan sudah ada, kemacetan membludak tiap mudik Lebaran. Di luar itu, bayangkan jika satu hari  saja semua pengemudi angkot, bus, taksi, pilot, penarik ojek, penarik becak, libur tanpa kecuali. Demikian pula pedagang sayur, bubur, pegawai supermarket, petugas parkir, pedagang di pasar, warung besar sampai kecil, bengkel, juru cat, jasa reparasi komputer, dan warnet.

Pasti repotnya bukan main.

Masih mengomel soal libur? Saran saya, tak usah jadi freelancer.

Lho, saya belum juga membahas soal toleransi pekerja lepas dan kantoran dalam keluarga. Baiklah, di postingan berikutnya saja:))

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s