Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya (5)

Tenggang rasa dalam keluarga, ketika anggotanya berlainan profesi, tentu menjadi contoh yang baik di mata anak-anak. Saya belajar dari seorang sepupu jauh agar mengenyahkan gengsi dan tetap percaya diri (tanpa berlebihan tentunya) ketika menyandang predikat pekerja lepas. Di rumah, beliau membangun ruang kerja khusus dan mengajarkan pada anak-anak bahwa « di situ kantor Papa dan Mama ». Bukan berarti tidak kelimpungan, dan itu masih terjadi setelah mereka menjalani bidang tersebut selama belasan tahun.

Di film-film Hollywood, cukup banyak karakter yang dikisahkan bekerja lepas. Penggambaran visual mestinya lebih membantu pemahaman ketimbang tulisan. Malah saya kian mantap menjadi freelancer setelah menyaksikan film Beethoven. Memang George yang berprofesi kartunis tengah terancam krisis sehingga bisa saja kehilangan rumah dan miliknya yang lain, namun itu menambah keasyikan dan daya tarik pekerja lepas di mata saya.

Di tahun pertama pernikahan, kami sempat mengalami « dua dunia ». Saya ngantor, suami bekerja lepas. Tanpa bermaksud sombong atau meremehkan pendapatan sendiri, justru karena suami yang baru merintis usahalah saya bisa sering main. Suami rapat dengan klien, saya jalan dengan teman. Mungkin itu yang disindir di masa sekarang I work, she shops. Secara rutin setiap gajian, saya mengajaknya kencan di tempat makan favorit kami. Justru dengan statusnya sebagai pekerja lepas, suami dapat menjemput saya dari kantor kendati kami belum memiliki kendaraan. Bukannya saya takut pulang sendiri, tapi rumah orangtua jauh dari kantor dan di atas jam delapan malam sudah tak ada angkutan umum ke sana.

Mengharapkan pengertian orang lain, meski keluarga sendiri sekalipun, memang susah-susah gampang. Baru tujuh tahun silam saudara-saudara memahami bahwa kami tidak bisa mudik Lebaran secara rutin. Saya masih ingat suatu malam takbiran, suami dalam perjalanan pulang dan ditelepon kakak apakah akan mudik. Sesuai pengakuannya, « uang saku » untuk bekal pulang itu baru diterima detik-detik terakhir hari tersebut. Segala rencana mundur, bahkan batal, sudah dianggap biasa sehingga kami jarang berjanji. Kali lain, mas ipar menelepon dan kaget karena suami masih di luar rumah sekitar jam tujuh malam. « Cari apa sih, kerjamu sampai begitu? » Padahal beliau juga bukan orang kantoran. Kami tertawa-tawa saja, menganggap itu tanda kasih sayang kakak kepada adiknya.

Mau tak mau, Lebaran jadi momen « sakral » bagi keluarga besar kami. Kalau kakak pulang, saya dan suami menyempatkan datang. Kadang menginap, kadang pergi-pulang, tergantung sikon. Yang penting ikut kunjungan keliling ke saudara dan yang dituakan. Ini semacam keharusan karena adik saya yang kantoran sudah mirip freelancer, liburnya hanya sehari. Harus diakui, pihak keluarga suami lebih bisa mengerti karena kebanyakan berwirausaha. Adik ipar pernah tidak bisa mudik karena ayam-ayam ternakannya baru bertelur.

Pasangan berstatus orang kantoran, terutama suami, acap dipandang « jaring pengaman » kendati tidak melulu soal finansial. Ibu perias saya ketika menikah dulu, menceritakan betapa pedih rasa kehilangan beliau tatkala suami berpulang. Pasalnya, suami beliaulah yang ikut repot di akhir pekan, khususnya di hari resepsi atau akad nikah klien.

Singkatnya, kekompakan itu penting. Tak perlu juga berkomentar, « Wah, saingan nambah nih, » jika kenalan atau saudara memutuskan mengundurkan diri dari kantor dan menjadi pekerja lepas seperti kita.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s