Promosi Karya (Dan Diri)

Perhatian: tulisan ini berbelok-belok dan melebar.

Ketika berkenalan dengan seorang penulis ternama, seorang penerjemah mengirimkan buku terjemahan terbaru. Tak ada pemikiran apa-apa saat itu, hanya bertukar tanda mata karena penulis tersebut menghadiahi si penerjemah sejumlah buku karyanya di hari ulang tahun. Padahal mereka belum lama berteman.

Tak urung, ketika suami sang penulis yang bekerja di suatu penerbitan besar memuji buku terjemahan itu, penerjemah tadi bergembira. Tumbuhlah rasa percaya dirinya untuk melamar dan menempuh tes sewaktu penerbit tersebut membuka lowongan sekitar dua tahun kemudian.

Penerjemah di atas adalah saya sendiri. Walaupun karya yang disebut telah terbit, saya menghormati wanti-wanti penulis dan suaminya untuk tidak menyebutkan jati diri mereka berikut kantor penerbitan itu. Karena satu, dua, dan tiga hal, katanya. Cerita di bawah ini berkaitan dengan promosi dan reputasi, secara tidak langsung.

Sang penulis tergabung dalam suatu forum kecil dunia maya. Di forum kecil tertutup itu, para penulis anggotanya kerap berbagi desas-desus. Termasuk sewaktu editor yang menangani buku mereka mendadak mengundurkan diri. Hal biasa, sebenarnya. Kesannya saja mendadak. Penulis-penulis itu entah kenapa menyikapinya dengan panik.

Penulis kawan saya tadi membaca sambil terkekeh-kekeh. Apa pasal? Editor yang diperbincangkan adalah anak buah suaminya di kantor. Bisa dibayangkan apabila sang penulis membaca diskusi forum itu di tablet milik suami, dan… seterusnya silakan ditebak sendiri.

Masih tentang promosi, saya teringat ketika menonton satu tayangan di televisi swasta beberapa hari lalu. Seorang pakar parenting membawakan topik yang sesuai kondisi terkini, namun entah kenapa presenternya bukan yang biasa. Yang jadi masalah, presenter tersebut kesulitan mengimbangi sang pakar sehingga topik bahasan malah berbelok jauh dan setiap usai jeda iklan, semakin tidak nyambung dengan tema utama. Saya yang doyan iseng mengamati bahasa tubuh orang menangkap sinar mata sang pakar dan gestur beliau menahan kesal. Mungkin persis yang saya rasakan ketika diwawancara oleh penyiar radio yang belum membaca buku terjemahan saya kala itu sama sekali.

Tapi pakar tadi tidak kehilangan akal. Telanjur berbelok jauh dari topik utama, akhirnya beliau menyelipkan promosi terang-terangan akan buku-buku yang sudah terbit. Selama saya menonton beliau di TV, baru kali ini beliau langsung menyebut judul buku A, B, dan lain-lain. Strategi cerdas yang mengundang tawa kagum saya dan seorang kolega editor yang mengenal pakar parenting ini. « Manfaatkan kesempatan, bikin senang orang promosi karena pekerjaannya terbantu. »

 

Publicités