Semua Kekalapan Ada Masa Tobatnya

Kalau membahas ponsel, saya malu sendiri. Saya termasuk generasi yang baru kenal ponsel setelah bekerja dan sempat menikmati masa-masa indah antre di telepon umum sewaktu kuliah. Ponsel perdana saya AMPS yang tidak bisa menampilkan nomor di layar, ukurannya besar, dan belakangan dilepas karena tidak kuat bayar tagihan. Bukannya kapok, nomor GSM pertama juga pascabayar yang lebih ruwet lagi. SMS saja tidak pernah masuk.Bandingkan dengan suami yang baru mau pakai ponsel setelah menikah. Soalnya istrinya rewel:p. Tapi dia hanya mau terima telepon di jam istirahat. Akhir pekan, ponsel dimatikan.

Pada suatu periode yang kami sebut September Derita, hampir semua barang kami jual termasuk ponsel. Kami menggunakan satu untuk berdua, benar-benar sekadarnya. Tapi saya baru insaf gonta-ganti ponsel ketika mengalami periode kelam kedua, sekitar tahun 2006. Ponsel Siemens, kalau tak salah, yang sangat saya cintai harus dijual. Masih tinggi sih, 500 ribu waktu itu. Saya ikhlas betul karena sudah kenyang mengutak-atik perangkat dalam dan luarnya, mulai dari motong lagu untuk ringtone, YM-an via SMS, sampai mencoba flashing tapi tidak berani:P

Sewaktu ponsel mulai murah-meriah dan ibu saya tertarik menggunakannya, gonta-ganti ini semakin tak terkendali. Untungnya saya sudah tidak ngileran tren baru, sih. Hanya butuh untuk modem, hingga suatu ketika pakai ponsel CDMA untuk modem juga lantaran sinyal apa yang bagus di lereng gunung ini masih teka-teki. Jelas saja, benda itu mati total karena kepanasan.

Setelah punya modem RUIM, meredalah kekalapan tadi. Pesawat Wifone yang bikin deg-degan kalau ada geledek jadi mainan ponakan balita. Ponsel dibuang sayang lainnya jadi alat komunikasi di warung. Sewaktu saya kesulitan membaca SMS berhuruf kecil-kecil, suami memberi kejutan dengan membelikan Android. Ketika saya pura-pura merengek bahwa memorinya kurang besar dan butuh aplikasi yang lebih gemuk pula, dia bilang, « Kamu kayak anak SMP aja, deh! »:))

Kalau lihat sampah alat elektronik macam kabel data yang jamuran, modem CDMA yang tak terpakai karena sinyalnya tiarap mulu, jujur saya sedih. Percaya tidak percaya, tangan dingin tidak hanya berlaku untuk tanaman. Tapi juga ponsel. Seorang kerabat mengeluhkan ponsel yang bermasalah, tidak bisa ini-itu, ketika pindah ke tangan kami kok lancar-lancar saja. Bodinya memang sudah baret, namun toh tidak mengganggu fungsi.

Sekarang di rumah ada tiga charger, satu kabel data, dan dua earphone. Yang paling bahagia adalah para keponakan jika bertandang kemari. Charger kami cocok juga di BB dan ponsel mereka yang berbeda merek.

Sebenarnya kami pakai ponsel hanya karena satu hal: tidak pasang telepon rumah:))

 

Publicités