Penimbun Kelas Bantam

Di luar berbenah dadakan apabila ada saudara bertamu atau menginap, kami memang harus meluangkan waktu khusus untuk membersihkan rumah. Tepatnya, merevisi konten rumah yang mulai disesaki barang. Ceritanya kemarin Mas Agus kejar-kejaran tenggat dengan pemadaman, jadi saya tidak mau mengganggu area meja sekitarnya. Saya putuskan berbenah saja.

Ini sebenarnya sinyal bahaya bagi orang tertentu. Kalau sedang semangat beres-beres, saya juga gemar sekali membuang barang. Bukan membuang semena-mena, tapi yang teronggok begitu saja sampai berdebu dan memenuhi ruang padahal dipakai pun tidak. Butuh ketegaan dan tekad besar menangkal lupa, misalnya untuk membuang sutil kayu yang sudah berjamur di bawah wastafel.

Sebagaimana layaknya orang berumah tangga, sudah tentu saya menanyai Mas Agus dulu menyangkut beberapa barang. Di sinilah problem klasik (baca: selama 13 tahun) terjadi. Mas Agus tipe penyimpan dan cenderung melankolis (romantis sih persisnya). Antena TV yang sudah copot pun tidak boleh disingkirkan, alasannya untuk memperbaiki antena radio yang bernasib lebih buruk walaupun belum sempat. Ya begitu deh, kalau alasannya masuk akal, saya terima. Tapi kalau tidak, diam-diam saya buang juga.

Bukannya saya tidak sedih waktu menyortir sejumlah barang dari kamar belakang itu (baca: baru dari kamar belakang saja, tuh, dan sebagian kamar depan). Plakat penataran Bapak, contohnya, baru tahun ke-7 di rumah ini saya sampai hati buang. Insya Allah beliau tidak keberatan, toh almarhum Bapak juga tegaan seperti saya. Beberapa post-it yang baru dipakai sedikit, sikat gigi Mama yang masih utuh tapi sudah tahun lalu naruhnya, dan beberapa barang lain yang kalau dipandangi lama-lama bisa bikin labil, langsung saja saya lemparkan ke kantong sampah daripada nggak selesai beberesnya. Demikian pula setumpuk majalah di kolong tempat tidur dan wadah asesoris yang sudah saya simpan selama 20 tahun.

Perkara timbunan barang yang disayang-sayang ini sudah genting. Barang yang lebih perlu jadi tidak kelihatan dan kami beli lagi, padahal masih ada. Boros kan? Contohnya kapur barus dan tisu. Ketika membuka satu dus ponsel kemarin, ternyata ada charger yang benar-benar « perawan » dan masih dibungkus plastik. Sejumlah benda kecil yang berserakan saya masukkan ke wadah berupa eks tempat alat tulis, dus bekas paket, dan macam-macam lagi. Di rumah ini memang nyaris tak ada laci, karena kondisi sangat lembap dan rentan jamur tidak memungkinkan untuk itu. Bisa-bisa malah nambah kerjaan.

Jujur, rasanya legaaa banget setelah semua benda yang disisihkan itu diangkut penarik sampah. Ini trik lama saya kalau dilanda stres. Sangat didukung oleh dokter yang merawat maag saya sekian tahun ke belakang. Kalau dipikir-pikir, sebagian benda memang mengandung kenangan… tapi yang pahit dan bikin sakit hati. Sekalian bebersih gudang batin juga, mungkin:)) Di bawah ini yang kami pertahankan:

Omong-omong, pembenahan ini tidak hanya berlaku untuk barang fisik. Saat menulis postingan ini, saya mem-backup foto dan gambar di ponsel supaya memori tidak seperti sarden dalam kaleng. Ternyata ada 2000 gambar lebih! Padahal yang di harddisk belum disortir… ck ck ck, penimbun kelas bantam.

Publicités