Kita Tak Bisa Dapat Segalanya

« Di gunung kok susah air, sih? » demikian pertanyaan yang sering saya dengar ketika musim kemarau (panjang) tiba. Atau yang tak kenal musim, « Sering banget ya mati lampu? Kasian bener sih kamu. »

Orang-orang tertentu membuat saya merasa « tinggal di pedalaman », seperti istilah ibu saya kalau dengar komentar di atas. Khusus warga non Bandung (walaupun saya nggak pede ngaku Bandung, makanya suka nyebut kecamatan saja seolah-olah berdiri sendiri), saya sangat maklum bila sulit membayangkan keadaan ini. Tapi orang Bandung sendiri, yang juga mengalami mati listrik dan kadang berjam-jam, kok ya saya capek menerangkannya:p Paling ujung-ujungnya ya itu, dikasihani sebagai orang kabupaten. Kenyang banget deh menelan reaksi macam itu sejak kecil, karena saya lahir dan besar, pindah-pindah pun selalu di kabupaten. Orang bilang, « Minum air kabupaten. »

Soal air, saya sudah jelaskan panjang lebar dan emoh mengulangi kecuali sedang mood (ngeyel). Singkatnya toh, musim hujan begini air subur. Terkait pemadaman, saya sering jawab dengan senyum atau minimal nyeringai kalau lagi bete. Kakak yang kerja di PLN Jateng pun menyarankan beli genset sewaktu bertandang kemari. Tapi kami nggak tahan bisingnya, selain satu dan lain hal menyangkut benda itu.

Apa hubungannya dengan orang kabupaten? Saya sudah biasa banget dengan gelap-gelapan sejak kecil. Desa kelahiran saya di Sukabumi sana baru dipasangi penerangan sekitar 10 tahun terakhir. Buat generasi masa kini yang biasa gebyar listrik dan gampang colok gadget mungkin terdengar « mengenaskan ». Tapi begini lho Nak, Adek-adek, ada sesuatu yang nikmat dalam kesenyapan dan keremangan tersebut. Tidur nyenyak, karena siapa yang mau begadang kalau ke kamar mandi saja harus bawa lampu minyak? Tak ada polusi berita media yang acapkali bikin suasana hati suram sejak pagi karena tak ada televisi. Kalaupun pengen baca koran atau ngobrol agak larut, ya pasang petromaks. Bunyinya itu ngangenin, sungguh. Dan bikin saya makin nyenyak tidur…

Apakah nenek dan saudara-saudara saya di kampung tampak menderita? Nggak tuh.

Saat pindah ke Bandung, perumahan yang kami huni juga gelap tiap habis Maghrib. Itu tidak jadi kendala bagi saudara dan kerabat yang menjenguk, mereka tetap mau menginap dan suasana rumah jadi hangat. Memang sekarang keadaannya sudah berubah, atau hanya berganti bentuk menjadi pemadaman bergilir yang agak sering.

Padahal kondisi kami masih jauh lebih mendingan daripada daerah-daerah lain di luar Jawa. Seorang teman di Indonesia Timur kena pemadaman sedikitnya satu jam sehari, seringnya malah setengah hari. Teman lain di suatu wilayah di Yogya sempat kena pemadaman tiap hari selama kurun waktu tertentu. Saya bukan tidak pernah kesal. Laptop pernah jadi korban karena byar pet ini, juga beberapa lampu dan modem. Namun pemadaman bukan « kiamat ». Sekali-sekali bikin deg-degan dan gemas, kalau bertepatan dengan deadline atau penyerahan hasil kerja. Solusinya, Mas Agus turun gunung ke warung kecil kami di kota sebelah. Kalau saya belum masak nasi pas pemadaman pagi, ya nahas aja.

Siasat lainnya klise sih, backup data. Sebisa mungkin saya menghindari proyek Sangkuriang. Mungkin tidak profesional kesannya, tapi saya memilih jujur saja jika ditawari pekerjaan macam itu, « Lagi sering mati listrik, takutnya nggak kelar tepat waktu. » Padahal kalau listrik nyala, bisa saja ada kendala lain yang tidak kalah mendebarkan: internet ngadat. Pernah di suatu harpitnas, kedua jaringan operator kompak tiarap. Saat akhirnya bisa, Gmail sulit dibuka. Ya nyengir saja sambil elus-elus laptop dan komat-kamit:))

Ada yang berseloroh, « Pindah aja. » Oh, tidak semudah itu, Juragan. Pindah adalah keputusan besar dan kami sudah capek, inginnya bermukim terus di sini mengingat perjalanan panjang dahulu. Beberapa tahun lalu ada yang menawari menempati rumah di kota sebelah supaya lebih dekat ke warung. Untuk menghargai beliau, saya coba bertandang beberapa kali. Masuk gang, tidak masalah. Rumah nyaris « adu hidung » dengan rumah seberangnya, masih bisa tahan. Dekat kuburan, juga nggak apa-apa. Namun tidak ada kelebihan spesifik dengan rumah kami yang kata orang di ujung dunia ini. Warung sayur, misalnya, masih lebih dekat di sini. Angkutan umum ada, tapi hanya sampai jam 4 sore. Kalau mau nekad jalan ke pertigaan, jauhnya bukan main dan panas. Malah kalau hujan seharian seperti sekarang, lebih repot lantaran jalannya licin.

Tinggal di warung? Asisten kami dulu menyarankan nginap saja karena menurutnya rumah kami jauh dan kondisi bangunan warung lebih bagus dibanding tempat tinggal. Kami tidak menampik:p. Waktu baru pindahan saya nginap di kamar belakang, rasanya seperti tidur di terminal. Bus dan truk lewat, tembok bergetar. Wah lasut, kata orang Sunda. Buat saya tidur itu sangat penting, apalagi ketenangan. Di situlah « kemenangan » rumah kami.

Beberapa waktu lalu ketika trafo PLN meledak dan mengakibatkan pemadaman selama hampir 48 jam, kami disarankan mengungsi ke rumah orangtua. Mari saya gambarkan lebih dulu. Rumah orangtua saya itu di Selatan, kami di perbatasan Timur. Idealnya mengungsi itu ke lokasi yang relatif dekat untuk menjenguk kondisi rumah, bukan seperti melarikan diri. Lagi pula kami kesulitan bekerja di rumah orangtua, antara lain karena wilayahnya blank spot. Sinyal ponsel saja hilang-timbul, operator yang mengaku nomor wahid itu sekalipun. Apalagi online dan kirim file, bisa ditinggal naik-turun tangga dulu. Selain itu, kami memerlukan banyak dukungan fisik dalam bekerja seperti kamus yang tidak cukup satu. Makin repotlah memboyong sebanyak itu ke sana.

Faktor lain adalah empati. Saya jarang bergaul dengan tetangga, tapi rasanya kok enak amat « kabur » memikirkan diri sendiri sedangkan kondisi tidak payah-payah amat. Rumah yang kosong dan tanpa penerangan juga berisiko disambangi tamu tak diundang. Mau nitip tetangga? Masa mau merepotkan orang yang punya masalah sama?:))

Sampai kini, kami memilih puas dengan apa yang ada. Mungkin terlalu terbiasa. Kalau ada yang komentar mengasihani lagi dan menyuruh pindah ke kota, paling saya jawab iseng, « Katanya suka tantangan? Jangan lama-lama di zona nyaman? Ini lho, tinggal di sini menantang adrenalin. »

Publicités