Bukan Sekadar Perintang Waktu

Seperti yang dikemukakan Femmy di status FB suatu tahun, saya cukup sedih apabila ada yang bilang ingin menjadi penerjemah untuk mengisi waktu luang. Tanpa bermaksud jadi ratu drama, bekerja di rumah yang terkesan « lebih banyak waktu » pun butuh teknik dan tekad istimewa agar bisa disiplin dan hasil kerjanya memuaskan.

Saya pernah baca pernyataan editor in house di milis sebuah penerbitan yang kurang-lebih menyebut tantangan menggarap terjemahan juga. Sengaja saya samarkan nama pengarang dan jenis bukunya:

Gaya menulis pengarang itu terhitung « berat ». Buat teman-teman penggemar dan pernah atau malah sering membaca buku aslinya pasti bisa merasakan bahasa dia tuh berada di level yang relatif lebih tinggi dibanding penulis-penulis lainnya. Cara pendeskripsian yang sangat detail, dengan pilihan kata yang nggak umum dipakai pada kebanyakan novel sejenis, plus istilah-istilah khusus dan permainan kata yang kalau diterjemahkan secara plek-plek ke bahasa Indonesia pasti jadinya aneh.

Alhasil, novel ini merupakan tantangan tersendiri bagi para penerjemah dan editornya. Waktu kita membaca buku asli, beberapa detail yang sepertinya nggak terlalu penting dan cuma bersifat « hiasan » bisa kita lewat aja. Yang penting secara garis besar kita mengerti jalan ceritanya, bukan? Tapi bagi penerjemah, dan terutama editor, semua « hiasan » tadi juga penting dan nggak bisa main dihapus begitu saja hanya karena kami nggak ngerti, karena baik penerjemah maupun editor WAJIB menerjemahkan sesuai tulisan si penulis (kalo kata artis mah, ini tuntutan profesi :p) kecuali sensor ala kadarnya.

Ada kalanya kalau udah kepepet, penerjemah main hajar bleh dengan menerjemahkan kata per kata, nggak peduli secara kaidah bahasa Indonesia maupun logika terjemahannya nggak masuk akal. Nah, editor yang baik (taelah :p) nggak bisa melakukan itu. Prinsipnya, kalo kami aja yang pernah baca buku aslinya nggak ngerti, gimana pembaca yang benar-benar mengandalkan hasil terjemahan? Jadilah editornya yang harus kerja keras mengedit hasi terjemahan tadi. Kalau nerjemahinnya ngaco abis, editor bisa dibilang menerjemahkan ulang! Dan itu jelas butuh waktu lebih panjang…

Itu baru hambatan dari segi materi naskah. Hambatan berikutnya bisa jadi faktor eksternal. Bisa jadi penerjemah dan editor tertimpa musibah, mulai dari sakit, ada kerabat yang meninggal, ada keperluan mendadak, dll.

Kemampuan tiap orang (baca: kecepatan) menerjemahkan bisa berlainan. Saya kagum setengah mati pada seorang senior yang sanggup mengerjakan 40 halaman sehari saking sudah ngelotoknya. Beliau mengambil spesialisasi di genre tertentu. Namun beliau mengakui, jika materinya mengharuskan sebentar-sebentar riset, tidak bisa sebanyak itu. Ada lagi yang mampu menerjemahkan 20 halaman sehari sebelum dibaca ulang. Saya benar-benar ternganga:D

Sungguh, saya menaruh hormat pada penerjemah paruh waktu yang berstatus kantoran dan jujur mengakui bahwa dia hanya dapat menerjemahkan di akhir pekan atau hari libur. Juga kepada teman-teman penerjemah dan editor lepas yang tidak sungkan menolak order sewaktu hendak melahirkan, pindah rumah, melanjutkan pendidikan, atau mempersiapkan anak ujian. Juga kepada teman-teman pekerja lepas yang merangkap profesi dan kegiatannya pun beragam. Mereka tidak memaksakan diri menerima tawaran menerjemahkan, misalnya, ketika tengah menulis novel, menulis skenario, atau mengerjakan order ilustrasi.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s