Dikira Editor In House

IMG_20130517_094334

Ketika buku rame-rame ini terbit, saya dapat e-mail lamaran penerjemah dari seseorang yang menyangka kami masih buka biro penerjemahan. Saya tanggapi dan jelaskan baik-baik, alhamdulillah dia mengerti.

Pengalaman menggelikan (dan kadang-kadang bikin gregetan) ini masih terulang sampai kini. Ihwal magang, saya sudah jawab di FAQ web. Ternyata magang di kantor penerbitan pun harus melalui seleksi. Seorang relasi bercerita, magang di divisinya tetap melalui tes editor.

Setelah beberapa kali dikirimi lamaran dan « dipedekatein » penulis karena saya juga menyunting naskah lokal secara lepas, saya termangu dan mencoba introspeksi. Di jejaring sosial, termasuk Linkedin, cukup jelas terpampang bahwa status saya freelance. Online via hp sering jadi alasan, namun cukup banyak kenalan yang membiasakan diri membuka dulu « About » sebelum memutuskan add kontak di FB atau lainnya. Salah duga ini kian beragam seiring waktu berjalan. Karena sering bekerja sama dengan penerbit tertentu, contohnya, saya dikira ngantor tetap di sana. Kadang hati gatal ingin berseloroh, « Kalau ngantor saya nggak akan sering-sering ngeblog atau sempet nengok jesos, deh. Urusan editor in house itu segudang. » :))

Kalau pelamar salah alamat ini tidak juga paham dan berkeras bertanya, « Jadi sekarang Mbak kerja di penerbit apa? » saya mengikuti saran seorang editor lain untuk membiarkan komunikasi sampai di situ saja. Bahasa tulis sangat terbatas, mudah sekali disalahpahami.

Yang menghibur, bukan saya saja yang mengalami ini. Editor in house yang sudah mengundurkan diri dan menjadi pekerja lepas masih sering ditanya-tanya tentang naskah yang pernah ditangani atau nama kontak yang bisa dihubungi untuk melamar. Begitu pula editor in house yang pindah kantor, bahkan pindah ke penerbitan yang produknya seratus persen berbeda. Kadang-kadang saya kebagian jadi jubir, ketika menyunting buku dan penerjemahnya kini berstatus karyawan penerbitan. Saya terangkan, « Ini bukunya digarap waktu beliau masih freelancer. Baru diedit sekarang karena pertimbangan was wes wos… »

Teman lain juga ketiban ribet ketika penerjemah tertentu ternyata punya penggemar, namun yang bersangkutan memutuskan banting setir dan tidak menekuni penerjemahan lagi. Yang paling kocak, ketika saya terlibat penerjemahan The Casual Vacancy dan diprotes seseorang di internet. Rupanya dia belum tahu bahwa Ibu Listiana sudah wafat.

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s