Menumpuk di Belakang

IMG_20130512_105821

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang teman seprofesi. Kami membahas satu kebiasaan pekerja lepas yang kurang baik, ngebut di belakang. Pendeknya, cukup mengherankan (atau menakjubkan buat diri sendiri) bila di minggu-minggu menjelang tenggat bisa dapat sekian banyak. Teman saya ini pakai hitungan kata, sedangkan saya biasa dengan jumlah halaman:)

Sederhana saja, jawab saya. « Kemungkinan besar di proyek sebelumnya kita juga tancap gas di belakang, jadi setelah itu kita ngesoot dari mula. Apalagi kalau istirahatnya cuma sebentar. » Mengenai istirahat sebentar ini bukan alasan cabut atau bolos seperti anak sekolahan (meskipun kadang wajar kalau jenuh), bisa saja karena ada urusan rumah tangga yang tidak mengenal status nikah atau belum semacam memperbaiki bocor, kebanjiran, atau sakit.

Teman tadi membenarkan itu. Karena bagaimanapun ngebut di belakang cukup riskan (tidak sempat baca ulang dengan teliti, bab-bab akhir keriting dan menyulitkan editor), kebiasaan tersebut perlu ditanggulangi perlahan-lahan. Jeda yang memadai sebenarnya tidak lama, kok. Saya pernah merampungkan siang hari, kemudian mengistirahatkan laptop dan melakukan hal-hal lain. Segar lagi waktu memulai pekerjaan selanjutnya esok sore.

Apakah ini masalah waktu/salah hitung tenggat? Saya teringat suatu bulan, seorang kolega inhouse memutuskan memperpendek tenggat penerjemah. Dia tidak bilang persisnya berapa lama, tapi semata memberi kelonggaran pada jadwal terbit. Katakanlah harus terbit tiga bulan lagi, penerjemah diberi waktu sebulan setengah. Jadi kalau minta perpanjangan, jadwal terbit tadi tidak terganggu.

Ada lagi yang memang disebabkan mental, alias hobi memelihara kebiasaan molor. Ini lain dengan orang-orang yang terpaksa telat dan jadi gelisah. Yang menikmati « hobi » terlambat umumnya tidak merasa bersalah. Penerjemah seperti ini lazimnya diberi proyek yang tidak mengejar waktu sehingga tidak « berhak » komplen apabila buku baru terbit lima tahun kemudian (ya, saya tahu ini lebay). Namun cukup sedikit yang ditoleransi sedemikian rupa, terlebih jika sudahlah makan waktu sangat lama, hasilnya masih membutuhkan sentuhan ekstra editor.

Saya teringat suatu situs humor (atau plesetan mungkin) yang memajang kartun sindiran terkait perpanjangan waktu ini. Menurut kartun itu, diberi tambahan sebulan pun, kita belum tentu langsung mengerjakannya. Malah ada penundaan lagi, dan baru dikerjakan dua minggu kemudian. Menurut saya karena menerjemahkan sama dengan menulis. Ngelamunnya lebih lama daripada kerjanya. Kadang padanan yang pas muncul saat main game, ngobrol, masak, atau cuci piring. Mas Agus pernah keluar dari kamar mandi mendadak karena dapat ilham kosakata yang lebih pas untuk naskah suntingannya. « Takut lupa, » katanya.

Buat saya, ini kerap terjadi ketika menerjemahkan. Empat tahun belakangan, saya lebih sering menyunting sehingga saat menghadapi terjemahan rasanya « gamang ». Walau materinya « hanya » dua lembar seperti sinopsis beberapa buku yang hendak mendunia, tetap saja saya bengong agak lama. Seorang kawan penulis berpendapat serupa. Menurutnya, menyunting membuat pengaturan waktunya lebih efektif karena bahan sudah « pasti ». Tinggal dihadapi. Oleh sebab itu, dia kembali mencebur ke dunia penyuntingan agar tidak « buang waktu » selagi menulisnya mentok.

Bukan berarti menyunting bisa konstan dengan kecepatan tertentu. Tetap saja tubuh perlu istirahat, khususnya tangan kanan yang nyeri karena kebanyakan ngetik. Namun saya akui, bisa merampungkan lebih awal sungguh melegakan pikiran. Ketika bangun pagi, hanya mikir, « Hari apa nih? » tidak disusul, « Berapa bab lagi ya? »

Publicités

2 thoughts on “Menumpuk di Belakang

  1. Aku biasanya bikin jadwal harian, supaya ngga numpuk di belakang. Tapi ya… tentunya kiat ini berhasil kalau jadwalnya dipatuhi. Sekarang ini susah mematuhi jadwal, jadi tetep aja kerjaan molor, hehehe….

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s