Karena Jiwa yang Kuat, Jadilah Tubuh yang Sehat

Beberapa waktu lalu saya menonton satu tayangan yang menghadirkan narasumber pesohor. Mereka mempromosikan gaya hidup sehat yang antara lain mensyaratkan « senang berolahraga, bukan karena terpaksa ». Dua poin selebihnya adalah makanan sehat dan istirahat cukup.

Saya langsung bertanya-tanya, kenapa pikiran yang tenang tidak termasuk? Selang sekian jam sebelum nonton tayangan itu, saya mengamini pernyataan Paulo Coelho, « What is success? It is being able to go to bed at night with your soul at peace. » Ketentraman itu memang tak kalah penting, karena siapa tahu besok pagi tidak bangun lagi.

Lebih jauh, narasumber menuturkan begini, « Kita takut tua bukan karena tuanya, tapi kebiasaan jelek masa muda bisa berdampak sewaktu tua. » Menurutnya, gaya hidup sehat sejak muda jadi semacam investasi. Pikiran iseng saya lagi-lagi mengenang ucapan seorang penulis terkenal, « Yang tua sudah kenyang jadi anak muda. Yang muda belum tentu nyampe tua. » Okelah, saya menghormati pendirian narasumber tadi. Namun cukup sering saya menemukan kasus orang yang apik banget menjaga cara hidup tanpa disangka-sangka jatuh sakit. Berat lagi. Sebenarnya logis, proteksi ketat menaikkan tingkat kerapuhan. Ibu saya yang aktif berolahraga pun dilanda stres ketika ketahanan tubuhnya berkurang dan tiba-tiba tidak sanggup berolahraga selincah dulu.

Saya pernah baca masalah ketidaksiapan mental ini di buku Psikologi Kematian. Kita memang tidak rela melemah sedikit saja, terlebih jika merasa sudah menempuh segala cara untuk menjauhi penyakit di jalan yang « benar ». Sama halnya kita tidak rela menua, seakan kurang puas menikmati masa muda. Seakan tidak menginginkan pergantian, regenerasi, atau apa pun sebutannya. Padahal Tuhan Maha tepat waktu. Di peluncuran buku Playing God, Dr. Rully Roesli mengemukakan bahwa dokter sekalipun tidak kebal dari penyakit gagal ginjal.

Ada iklan TV tentang dukungan perawatan psikolog ketika seseorang terjangkit kanker. Di film 50/50, penderita kanker disarankan berkonsultasi dengan psikolog seiring pengobatannya. Jelas, ini dibutuhkan, tapi di sini belum memasyarakat. Kita harus sembunyi-sembunyi jika ingin bertemu psikolog/psikiater karena takut dicap gila. Padahal stres dengan segala tingkatannya sudah « lazim », entah kenapa kita lebih suka mengakuinya di media sosial berulang kali. « Aduh, gue stres nih. » Tapi giliran ke psikolog, « Gue nggak sesinting itu, kali. »

Alangkah baiknya promosi hidup sehat secara fisik juga disertai perawatan batin. Misalnya berbagi kiat-kiat bagaimana agar tidak terguncang ketika divonis sakit dan butuh pengobatan panjang. Menukil twit Dalai Lama, « Just as we teach about physical hygiene in the interest of good health, we now need to teach about mental or emotional hygiene too. »

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s