Ketika Saya Menerjemahkan Materi Nonbuku

Belum lama ini, saya membaca memoar seorang wanita yang menerjuni penerjemahan semasa melanjutkan kuliah di luar negeri. Dokumen yang ditanganinya berupa laporan dan proposal konstruksi, termasuk jembatan berskala internasional. Sungguh pun hitung-menghitungnya memusingkan, dokumen teknik yang biasanya « garing » itu mengusik sang penerjemah sampai pulang. Dia membuka-buka buku, membaca referensi mengenai pengaruh jembatan tersebut khususnya atas aspek sosial budaya masyarakat sekitar.

Untuk dia, dokumen konstruksi itu jadi semacam dongeng.

Hal yang sama kerap saya rasakan. Mungkin karena itu saya sering gagal menerjemahkan materi yang mengharuskan gaya bahasa « datar » dan sangat ilmiah, untuk penerbitan sekalipun. Kalimat yang saya hasilkan cenderung naratif dan menggunakan diksi yang tidak « semestinya » sehingga Mas Agus kerap memperbaiki dan mengoreksi. Lantaran biasa menjiwai cerita di buku terjemahan maupun editan, materi berbeda pun saya perlakukan sama. Saya tidak bisa kerja begitu saja lalu selesai.

Sekitar 10 tahun lalu, saya menerjemahkan laporan suatu LSM yang sedikit-banyak mengenai kurang sehatnya lingkungan pekerja anak. Tepatnya, anak di bawah umur yang menurut mereka « seharusnya bermain saja seperti anak normal ». Saya tertegun dan berpikir, mungkin kosakata yang digunakan kelewat lugas dan menyinggung hingga reaksi masyarakat yang disasar juga negatif. Tidak salah anak-anak bekerja daripada, misalnya, berjam-jam main game, main ponsel (untuk masa sekarang) dan kegiatan yang kurang baik lain. Yang penting mereka menjaga kesehatan dan tetap mengerjakan tugas sekolah dengan baik. « Kebetulan » saya tinggal di wilayah sekitar lokasi yang dibahas LSM itu sehingga rada tersinggung.

Terkait materi nonbuku ini, tentu saja saya tahu diri dan menghindari/menolak topik-topik sangat teknis semacam kimia dan kedokteran. Untuk keluarga sekalipun.

Suatu waktu, saya berkesempatan menggarap laporan riset yang mendorong saya membaca teliti (itulah sebabnya saya sulit menerima tenggat Sangkuriang). Topiknya pariwisata. Saya nggak hobi-hobi amat jalan-jalan tapi ini cukup menarik juga, hanya saja karena kode etik tidak dapat menyebutkan kawasan persisnya. Di Jawa Barat, pokoknya.

Dengan membaca laporan bahan terjemahan itu, terkuaklah bahwa kota tanpa kabupaten amat kecil dan sempit belaka. Setelah satu kabupaten memutuskan mandiri, tergusur pulalah segenap objek wisata yang semula menjadi andalan pemasukan setempat kota itu. Ternyata sesudahnya, baru ketahuan objek tadi banyak sekali. Hanya saja tidak terurus sehingga kabupaten bersangkutan « minta pisah ».

Mungkin ini tidak berarti buat orang lain, namun membuka mata dan kesadaran saya. Saya tak bisa menyingkirkan perasaan ingin tahu berkepanjangan ketika membaca sesuatu, menjadikannya cerita dan pengetahuan baru. Kadang-kadang terilhami melakukan sesuatu, yang tidak dapat saya beberkan di sini:D

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s