Kepedean, Pencemas, dan C’est Passé

When I’m lucid, I could forget everything – The Mentalist Season 5

Bukan bermaksud bangga, kalau saya bercerita semasa kecil lumayan bandel. Secara otomatis, saya menyimpan sendiri sejumlah pertanyaan dan keheranan karena merasa tidak mendapat lawan bicara yang « memuaskan ». Contohnya, instruksi guru (dan kadang orangtua juga) bahwa setiap kali mengerjakan ulangan umum dan tes jangan terburu-buru. Itunya sih benar, tapi saya kurang sepaham dengan ngecek ulang jawaban kalau-kalau ada yang salah. Jadi sempat diperbaiki.

Di kasus saya, ketika menyempatkan cek ulang itu, jawaban yang sudah benar malah jadi salah. Saya kapok. Kalau memang tidak bisa keluar ruangan cepat-cepat, ya saya melamun saja atau pura-pura memeriksa lagi.

Memang sekali waktu saya kejeblos. Di EBTA SD, saya terlewat mengerjakan dua halaman pilihan ganda. Lupa pelajarannya apa. Ditegur guru sih jelas, karena ceroboh. Tapi saya tidak menyesal, karena toh sudah terjadi dan tidak bisa diapa-apakan. Ini gabungan kepedean dan keras kepala memang. Saya pikir, « Toh kejadiannya cuma sekali dari banyak ulangan. » Orangtua saya juga cuma geleng-geleng karena anaknya gampang banget move on.

Alkisah pada suatu tahun di masa remaja, ada peristiwa besar yang menjadikan saya pencemas akut. Sedikit-sedikit khawatir, sedikit-sedikit gelisah, sedikit-sedikit kepikiran. Hasilnya: gangguan lambung kronis. Cukup lama saya membenahi berbagai kebiasaan, didukung konsultasi psikis yang membuat saya kembali ke nol lagi.

Belakangan saya sering linglung. Nge-blank, gitu. Barangkali seperti yang pernah saya baca, di otak saya banyak sampah yang bikin mampet. Jadilah memori terkondisikan berumur pendek. Sengaja atau tidak, apa yang saya katakan/lakukan/niatkan sepuluh menit lalu bisa langsung terhapus. Tadinya saya tidak terima dan berusaha « ingat semuanya ». Tapi saya bukan Lisbeth Salander yang punya ingatan fotografis. Seperti kata entah siapa dan di mana saya baca, « semakin berusaha mengingat, semakin parah kita melupakan. » Atau dengan kata lain, cara mudah melupakan adalah berusaha mengingat.

Padahal tidak semua perlu diingat, katakanlah kejadian buruk atau yang bisa mengecilkan hati. Tapi memang sering kali saya gemar menabur garam ke luka sendiri, kayak lirik lagu alm. Meggy Z.

Jadi tersimpullah, lupa itu bisa jadi berkah. Kalau muka saya mulai keruh, suami tercinta rajin bertanya, « Ayo, parler, dong parler. » Setelah mendengarkan saya curhat, dia berkata, « Sudahlah Dek, c’est passé. » Jadi kayak mantra deh. Saya berangsur-angsur kembali ke diri Rinurbad yang dulu, meskipun dibilang aneh, eksentrik, nyentrik, dan seterusnya. Kecemasan saya mulai berkurang, tidak kelewat panik menghadapi perubahan dadakan, menjenguk yang lalu-lalu sebatas Passé récent. Yang dekat-dekat saja. Ibarat Tenses, saya berusaha di rel Simple Present.

Macam apa keanehan yang saya maksud di atas? Sebenarnya biasa saja, sih, celotehan ketika kepala sedang riuh. Misalnya, saya merasa akan lebih menyukai matematika, utamanya soal cerita kalau seperti ini: « Gaji Bapak 500 ribu satu bulan. Bulan ini Kakak harus bayar SPP sebesar 35 ribu (pake hitungan zaman saya sekolah). Sampai tanggal berapa gaji Bapak cukup untuk sekeluarga? » Bukannya « Kalau naik mobil kecepatan sekian per jam, berapa lama untuk sampai ke kota B dari kota A? »

Oh ya, itu lebih mirip pelajaran ekonomi sepertinya.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s