Terjemahan Fiksi, Apa Saja yang Perlu Disunting?

boulot

Apa saja yang perlu dicek dan dikoreksi? Demikian pertanyaan beberapa kenalan dan kolega yang merambah penyuntingan fiksi terjemahan untuk pertama kalinya. Saya coba jawab di bawah ini, walaupun praktiknya tidak mesti berurutan. Ini berdasarkan ingatan dan sependek pengalaman saya saja.

  1. Minta panduan selingkung penerbit bila ada.
  2. Sebaiknya hasil terjemahan dibandingkan dulu dengan buku asli, kalimat demi kalimat. Minimal satu halaman pertama, untuk memastikan penerjemahannya sudah tepat. Tapi jika ternyata banyak kalimat atau kata yang keliru maknanya, mau tidak mau harus dicek sampai satu bab penuh.
  3. Bila tingkat kesalahannya sangat tinggi, sampaikan pada penerbit/pihak editor penanggung jawab bahwa terjemahan perlu diulangi. Bisa oleh editor lepas (kita sendiri) atau penerjemah lain, tergantung kesepakatan bersama.
  4. Bila penerjemahan sudah cukup baik, kita baca perlahan-lahan. Memperbaiki kesalahan ketik baik karena faktor manusiawi (lelah, ngantuk, dsb) atau kesalahan eja karena perbedaan selingkung juga termasuk tugas editor.
  5. Cek kesesuaian gaya bahasa. Apabila di buku asli kalimatnya panjang-panjang bahkan « gondrong », alangkah baiknya dipertahankan di terjemahan. Hanya saja jika kalimatnya terlalu majemuk sampai pembaca « kehabisan napas », boleh dipenggal.
  6. Perhatikan genre buku. Fiksi populer seperti chicklit dan teenlit harus lincah dan seringkas mungkin tanpa memangkas pesan/maksud, maka kalimatnya jangan sampai « boros » dan membosankan.
  7. Cermati pilihan kata. Di sinilah perlunya wawasan kosakata dan kamus sinonim. Kadang « tersedu-sedan » lebih pas daripada « sesenggukan », misalnya. Tergantung konteks.
  8. Cermati idiom, salah satu « jebakan » bagaikan lubang di jalan raya.
  9. Apabila naskah mengandung puisi dan syair, cek apakah sudah berima, diksinya senada, dan tidak terlalu « berkhianat » dari aslinya. Lebih berhati-hati lagi jika puisi dan lagu tersebut sangat berperan dalam cerita, katakanlah mengandung kata sandi.
  10. Cek permainan kata, teka-teki, pembelit lidah, dan sejenisnya.
  11. Kadang penerjemah menandai bagian/kalimat yang diragukan alih bahasanya. Cek ketepatannya dan baca rujukan bila perlu diganti.
  12. Testimoni/iklan tidak perlu diterjemahkan, jadi langsung dihapus saja.
  13. Komunikasikan dengan penanggung jawab apakah sinopsis tetap dipakai, sebab ada penerbit yang memilih menulis sendiri.
  14. Cek kata ganti, terutama kata ganti orang dan dalam dialog/adegan yang terdiri atas dua orang atau lebih. Jika ternyata pengarang selalu menggunakan « aku » dan « dia » karena tujuan tertentu, atau tokoh-tokohnya tidak bernama sejak awal sampai akhir, tidak perlu diubah. Pastikan saja deskripsi tokohnya cukup jelas sehingga pembaca tidak bingung, kecuali dari sananya memang begitu.
  15. Sedapat mungkin hindari pengulangan kata.
  16. Cek judul-judul buku, film, lagu, terutama yang benar-benar ada. Umumnya tidak perlu diterjemahkan. Kalaupun perlu, dibubuhkan dalam kurung saja.
  17. Perhatikan pemakaian catatan kaki. Perlukah diubah posisinya menjadi glosarium di akhir buku atau disisipkan dalam kalimat sedemikian rupa agar tidak mengganggu keterbacaan.
  18. Cermati bahasa slang, dialek, sejauh mana boleh menggunakan bahasa gaul.
  19. Cek konsistensi sapaan, nama (biasanya di genre fantasi), dan istilah tertentu. Dalam fiksi klasik, tidak jarang pengarang mengganti-ganti nama seorang tokoh karena sapaannya banyak.
  20. Bila tokohnya bersaudara, apalagi lebih dari satu, catat agar tidak tertukar. Kalau perlu susun daftar tokoh. Terutama jika rentang waktu cerita cukup panjang dan di suatu ketika tahu-tahu muncul tokoh yang tadinya menghilang.
  21. Beri catatan atau komentar dengan Track Changes sekiranya ada bagian yang sensitif, terlalu kontroversial, dan sejenisnya sesuai pengetahuan kita atas buku-buku yang diterbitkan klien.
  22. Menerjemahkan bagian yang luput/terlewat oleh penerjemah.
  23. Istilah-istilah dalam bahasa asing lain (non Inggris) disertakan artinya.
  24. Apabila bukunya berseri, upayakan keseragaman istilah dengan buku-buku sebelumnya.
  25. Masih terkait genre, fiksi populer biasanya menuntut kosakata yang lebih lazim digunakan/banyak dikenal. Fiksi dewasa klasik, sejarah, dan semacamnya lebih leluasa dalam pemakaian diksi.
  26. Pastikan kalimat negatif (banyak mengandung « tidak ») bisa dipahami. Bila tidak, ada baiknya diganti dengan pernyataan biasa.
  27. Catat kesalahan yang sering terulang, kemudian cek dengan Ctrl+F saat membaca ulang. Hindari menggunakan Replace All.
  28. Hormati preferensi diksi penerjemah sejauh sesuai dengan gaya di buku asli/pengarang dan selingkung penerbit.
  29. Tulis catatan masukan untuk penerjemah.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s