Belanja Barang Produktif

Pindah kantor ke teras, karena di dalam panas

Pemandangan menarik di perempatan Kopo: motor baru mengangkut aneka sayuran hasil kulakan di Pasar Caringin. Teringat wejangan sesepuh keluarga, « Setiap barang idealnya harus bisa membiayai diri sendiri. Minimal ada nilai tambah dari segi manfaat, bukan menggerogoti. »

Alkisah, baterai Ceri, laptop yang digunakan suami sekarang semakin merosot kondisinya. Untuk boot awal sewaktu menyala saja sudah tidak kuat, jadi benar-benar harus ditopang listrik. Kami pernah berniat membeli baterai baru namun belum terlaksana karena dua, tiga, dan lain hal.

Sangat lumrah sebenarnya, karena saat baru dibeli, Ceri sudah digenjot bekerja keras. Siang-malam, dan langsung menghasilkan sekian pekerjaan. Artinya, laptop ini dibeli karena yang lama (Toshi Tua) sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan kami. Jadi di tengah kejaran tenggat, kami memutuskan ke toko komputer langganan. Memuaskan karena balik modal dalam waktu singkat. Ceri sudah berjasa besar selama lima tahun ini, meski kami tidak sepakat dengan pernyataan seorang kenalan bahwa komputer rata-rata berumur 5 tahun saja. Lebih dari itu, harus diganti. Semua kembali pada pemakaian dan perawatan, saya pikir. Ceri baru satu kali diformat ulang. Hardware-nya yang ngadat selain baterai hanya DVD Rom, tapi membaca CD data sih masih bisa. Iya, berkutat dengan CD data di zaman serbadigital ini terdengar mirip dinosaurus. Tapi kami masih di golongan itu dan ada beberapa klien yang berpreferensi ke CD data juga.

Ponsel Android saya yang sudah berumur setahun setengah sudah beberapa kali tergelincir, walaupun tidak sampai jatuh berdebum. Tampang belakangnya tidak mulus lagi. Tapi saya tidak berkeinginan (karena « ingin » perlu diabaikan, sedangkan « butuh » perlu dipertimbangkan) mengganti karena sudah pewe, kata anak gaul. Jari saya terlalu terbiasa dengan keypad-nya dan bakalan gagu jika harus memakai layar sentuh. Seperti Ceri, ponsel saya sudah kembali modal walaupun benda ini hadiah ulang tahun perkawinan dari suami.

Saya belum melirik catatan keuangan setelah pembelian Toshi, laptop yang saya pakai. Tapi yakin sih, sudah kembali modal juga. Ihwal perawatannya, saya bawel sekali kalau adik yang meminjam. « Ngetiknya jangan keras-keras kayak mukul papan, pakai ujung jari jangan kuku. » Bla bla bla… yang ditanggapi cengiran Adik.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s