Tetap Seperti Dulu

2014-08-10-11-12-31_deco

Sewaktu dapat giliran menemani saudara yang lansia, saya terpikir untuk bercerita hal indah yang berbau « masa lalu » saja. Pada usia tertentu, menurut saya, seseorang tidak lagi sanggup secara mental mendengar desas-desus yang mengkhawatirkan atau kabar buruk. Meski definisi buruk memang relatif.

Berceritalah saya tentang ibu tetangga. Ibu yang sudah sepuh ini masih berjualan nasi rames di kampung halamannya, nun di Jateng sana. Rutinitasnya seperti dulu, hanya untuk sarapan dan jam 8 pagi pulang. Dagangannya selalu habis karena beliau sudah punya langganan tetap dan menahun.

Uniknya, kendati berangkat ke pasar sehabis Subuh, ibu ini tak pernah mau menggunakan senter. Beliau tetap memakai obor blarak (mudah-mudahan benar menulisnya), yaitu obor dari daun kelapa yang cepat habis. Bisa dibayangkan betapa cepat ibu ini berjalan setiap pagi, karenanya beliau tetap sehat:)

Mungkin ini cerita biasa, tidak ada istimewanya. Tapi melihat reaksi saudara yang saya ceritai, saya dapat pelajaran: susah move on tidak selalu buruk, apalagi jika ada semangat di situ.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s