Menyunting « Who Will Cry When You Die? »

Foto: Indradya
Foto: Indradya

Sewaktu menjelajahi Google dalam penyuntingan The Monk Who Sold The Ferrari, saya bertanya pada Indra, « Apa Who Will Cry When You Die? diterbitkan juga? Judulnya nendang banget. » Indra menjawab sudah, dan saya dipercaya menyuntingnya. Sudah penasaran banget seperti apa isinya.

Jadi penyegaran tersendiri buat saya, karena format konten buku ini lain dengan The Monk. Ini berupa kumpulan tulisan pendek dari pengalaman Robin Sharma, sedangkan The Monk berupa uraian pengalaman satu orang yang dipilah dalam sejumlah bab berdasarkan « jurus ». Sebenarnya bahasan tentang kematian dalam Who Will Cry tidak mendominasi, malah lebih banyak bicara tentang kehidupan dan berbagai anjuran menyemarakkan/menjalaninya. Sangat masuk akal, sebab hidup adalah proses menuju mati. Dan maut itu hal paling pasti.

Menulis jurnal menawarkan peluang untuk teratur bercakap-cakap secara pribadi dengan dirimu sendiri (hal. 22)

Saya tidak tahu apakah ngeblog juga bisa digolongkan begitu, meski kenyataannya saya tidak terlalu sering menulis panjang tentang hal personal di blog dibandingkan dulu. Tapi saya akui alangkah menyehatkannya aktivitas menulis bebas untuk konsumsi pribadi, sebagaimana diungkapkan Austin Kleon. Kadang saya baca ulang, saya campur dengan konsep resensi, surat, dan catatan sembarangan lainnya. Malu juga membaca luapan emosi ketika itu, walaupun rasanya lega bisa dituangkan di kertas.

Menurut Sharma, 30 menit pertama setelah bangun adalah « Platinum 30 ». Saya juga percaya bahwa kondisi pagi memengaruhi keseluruhan suasana hati seharian itu. Sampai kini, kebiasaan saya ketika membuka mata adalah, « Hari apa ini? » Entah itu sehat atau tidak, jawabannya sih lebih sering keliru:p Kepinginnya saya, tiap pagi tidak perlu terburu-buru alias panik. Namun itu butuh usaha. Bila terkantuk-kantuk berbenah rumah atau menyiapkan sarapan karena ada janji sangat awal, tak ayal saya menggerutu juga. Apalagi dengar dering ponsel, rasanya jadi stres. Saya dan suami bersepakat tidak memulai hari dengan baca berita, nonton berita, atau mengobrol yang berat-berat memusingkan kendati yang terakhir itu sukar dihindari.

“Pada dasarnya adalah konsentrasi,” jawab si penempa pedang. “Aku jatuh hati pada pekerjaan menempa pedang saat aku berusia 20 tahun. Aku tidak peduli pada hal lainnya. Jika bukanlah sebilah pedang, aku tidak memandangnya atau memerhatikannya. » (hal. 30-31)

Gara-gara bombastis multitasking, saya membebek dan hasilnya malah timbul masalah baru. Saya tidak mau membahas kemampuan perempuan yang katanya lebih cakap melakukan dua hal sekaligus daripada lelaki. Katakanlah saya kelelaki-lelakian karena malah pikun, kacau, dan terbukti tidak seandal itu. Lagi ngobrol kemudian disela ke belakang dulu, saya bakalan lupa tadi sedang bicara apa. Mendengarkan suara orang selagi kerja, bisa-bisa omongan orang itu ikut terketik. Seorang teman akrab bilang, « Otak manusia memang repot kok kalau dipakai multitasking, makanya salah banget coba-coba nyetir sambil pegang hape. » Beberapa bulan lalu, dering telepon bikin kami lupa mematikan kompor dengan benar. Begitu saya menoleh, tahu-tahu api sudah membubung nyaris melalap langit-langit dapur.

Jadi ternyata multitasking itu semacam penyelewengan, bisa berbahaya. Setidaknya bagi kami.

Libur di setiap minggumu tidak harus berlangsung sehari penuh. Yang kau butuhkan hanyalah beberapa jam sendirian, mungkin pada Minggu pagi yang tenang, ketika kau bisa menghabiskan waktu melakukan hal-hal yang paling kau gemari. (hal. 33)

Nah, ini belum lama saya alami. Setelah menuntaskan suatu proyek, saya memutuskan libur kurang-lebih seminggu untuk membereskan sebagian urusan rumah dan kantor. Saya melakukan hal-hal yang tidak sempat dijamah semasa musim tenggat, termasuk mencuci dan mengepel. Mata saya memang istirahat dari laptop, tapi tangan kanan saya tetap nyeri:p Libur yang sebenar-benarnya libur mestinya « tidak melakukan apa pun » yang melelahkan, namun ada rutinitas yang tidak bisa dielakkan. Akhirnya saya pahami, bersantai paling mengenakkan adalah tidur nyenyak. Sekalipun hanya lima belas menit. Bila setelahnya saya harus « bertempur » lagi, rasanya lebih bertenaga dan tidak terlalu sering marah-marah.

Oh ya, harinya tidak mesti Minggu. Tapi istimewa benar ketika suatu hari Minggu yang sangat tenang, saya bisa jalan mondar-mandir di sekitar rumah untuk menghirup udara segar seusai hujan dan mengamati aneka burung di pepohonan.

Ketika membaca bareng seorang kawan baik untuk mengetes keterbacaan hasil suntingan saya, kami sama-sama termangu oleh Jadwalkan Jeda Khawatir (hal. 36). Kami masih berupaya membatasi cemas tak lebih dari setengah jam saja. Perlu saya ucapkan terima kasih pada Nui, yang mengajarkan trik, « Kalau masih sempat panik, berarti waktunya belum mepet. » Nui juga bilang, « Kalau tangan mengepal tanpa sadar, cepat-cepat buka. Itu pertanda stres. »

Saya pun setuju dengan pendapat Sharma, bahwa salah satu jurus tidur nyenyak adalah tidak membaca di tempat tidur. Belakangan saya kerap mimpi buruk, bukan berarti dikejar-kejar monster, melainkan mimpi ujian dan sidang akhir yang mengerikan sekali. Bangunnya jadi capek, deh. Jika ingin membaca sebelum tidur, saya usahakan sambil duduk dan bukunya yang ringan saja.

Ada lagi favorit saya, ihwal belajar berdiam diri. Rasanya hampir semua anak sastra atau pembaca buku klasik kenal nama Thoreau. Di halaman 45, dia berkata, « Sibuk saja tidaklah cukup, semut juga demikian. Pertanyaannya, apa yang sedang sibuk kau kerjakan? »

Bab Satu Hari Tanpa Jam Tangan membuat saya manggut-manggut. Lepas dari benda satu itu memang melegakan, meski alasan saya dan suami agak lain. Sudah 12 tahun kami tidak memakai jam tangan lagi:D

Sesampai di Belajar dari Film yang Bagus (hal. 62), saya teringat sejumlah situs psikologi luar yang menganjurkan terapi nonton film dengan penggolongan tema sesuai kasus yang dihadapi pasien. Secara khusus Robin Sharma merekomendasikan Life is Beautiful, yang baru saya tonton sedikit karena khawatir tak kuat sedihnya:p

Sewaktu dikabari bahwa buku ini sudah rampung cetak, saya terharu karena subjudul usulan saya digunakan di sampulnya. Bersama The Monk, sampul Who Will Cry pun dipajang di header grup FB Sahabat Qanita. Sungguh kenangan tak terlupakan dalam perjalanan keeditoran saya:)

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s