Kerja di Rumah dan Anak-anak yang Beranjak Dewasa

Ada yang pernah bilang pada saya, « Kalau anak-anak sudah besar, kerja di rumah akan lebih ringan. »

Sependek pengalaman saya, tidak begitu. Saya memang bukan orangtua betulan, hanya tante dan nenek (nini ti gigir, kata orang Sunda) yang beberapa kali ketitipan keponakan dan/atau cucu. Dari sana, saya sudah sadar akan ketidakterampilan menggendong bayi. Saya panik dan menjaga jarak ketika orangtua bayi/balita mengisyaratkan bahwa pelukan dan ciuman orang asing bisa menularkan penyakit pada mereka.

Ukuran « besar » tadi juga subjektif. Umur tidak bisa dijadikan patokan. Berdasarkan telaah di infografis ini, usia 15-17 tahun tergolong anak-anak. Saya pernah melihat anak yang sudah kuliah disuapi ibunya, dan bukan sedang sakit. Pernah pula melihat anak TK yang terbiasa membantu orangtuanya bersih-bersih. Faktor pemengaruhnya sangat banyak.

Kata seorang teman, « Mungkin maksudnya ringan itu tidak perlu khawatir kalau ditinggal di rumah agak lama, tidak perlu disiapkan makanannya, tidak perlu sering-sering bangun malam untuk menyusui dan semacamnya. » Hmmm… saya jadi ingat film Raising Helen, ketika seorang remaja nekat mengadakan pesta heboh selagi bibinya keluar apartemen. Barangkali mereka yang bilang « lebih ringan » itu sudah lebih terampil dan sangat berpengalaman menghadapi remaja.

Saya sepakat dengan artikel itu, « … and even now that they are older, they are very distracting. » Dalam beberapa hal memang tidak merepotkan, tapi saya ambil contoh kejadian paling « kalem » saja. Keponakan perempuan duduk di sebelah saya sepanjang saya bekerja. Padahal impian saya ketika tidak ngantor lagi adalah bisa leluasa dan « tidak ditonton ». Kami sering menolak tawaran proyek yang mengharuskan « duduk bareng » alias « ditunggui » klien.

Karena keponakan ini sudah mahasiswi, saya bilang terus terang, « Kalau kamu tonton begitu, aku nggak konsen. »

Apeslah saya jika dia sedang haid, sensi, dan berbagai kegalauan yang bisa jadi dalih untuk membalas, « Tante merasa keganggu ya? Kan aku pingin tahu, pingin belajar. »

Baiklah, agar drama tak berlanjut, saya biarkan. Saya berusaha anggap dia « tak ada ».

Sampai dia mengajak ngobrol. Curhat. Atau malah bertanya-tanya dan mengomentari setiap kalimat yang saya edit/terjemahkan. Juga e-mail untuk relasi. « Kenapa bilang begitu? Emang kalo dianya jawab begitu, nggak apa-apa? » dan seterusnya.

Ini pun terjadi pada keponakan lelaki yang sudah masuk SMA ke atas. Di zaman serbadigital ini, anak-anak remaja lebih sering di rumah daripada kongkow-kongkow di luar. Memang ada positifnya, lebih « terawasi » meski praktiknya tidak begitu. Suami lebih penyabar dan bisa cuek jika keponakan duduk manis di sebelah meja kerjanya, kadang-kadang malah saya mintai tolong ajak main, kalau perlu dibawa sekalian ke tempat klien. Hitung-hitung belajar kerja dan berkomunikasi.

Saya teringat salah satu episode Bones saat Booth membawa kakeknya ke kantor dan sama sekali tidak tegang. Booth membuat saya terintimidasi.

Kata teman lain, « Anak yang sudah besar bisa main sendiri. » Keponakan kami rata-rata gemar nonton TV, utamanya sinetron dan reality show. Bayangkan kerjaan sudah menuju tenggat, sedangkan letak TV hanya beberapa langkah dari meja dan volumenya lumayan keras.

Saya teringat seorang penulis tersohor berpendapat bahwa sudah tidak zaman lagi orang berkeluarga berusaha menyepi untuk konsentrasi, karena dia pun mampu bekerja dalam situasi apa saja.

Kembali saya terintimidasi.

Bukan berarti tidak ada sisi serunya, sih. Suatu malam kemenakan SD membetot saya ke ruang makan. Dia harus belajar dengan Tv menyala, karena begitu gayanya.

« Ini BO tulisannya, Nak, » kilah saya.

« Makanya Tante orangtuanya, » balas dia.

Sembari mengerjakan PR, dia melirik-lirik film Jet Li yang entah apa judulnya. Ada adegan Jet Li merangkak ke kolong mobil lalu bergantung di sana.

« Bohong tuh, » komentar kemenakan. « Ibu temanku pernah kepegang kolong mobil itu, tangannya luka. »

Kali lain, demi ketenangan, saya bekerja di kamar belakang yang dipasangi meja sementara keponakan mengerjakan skripsi… lagi-lagi di muka TV. Dia menonton reality show hantu-hantuan dengan suara keras, lalu memekik, « Tante sini dong! Aku takut! »

« Emoh! » jawab saya.

Mendampingi anak kuliahan yang menggarap skripsi beda lagi tantangannya. Pernah mengalami bimbingan dan revisi dengan segala faktor X-nya, juga membantu adik, tidak menjadikan saya pakar.

Jika sekali-sekali mereka kena semprot, ya tak terhindarkan juga. Kacaunya sih pasti, tapi dijalani sajalah.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s