Insentif Materi

Sebenarnya saya risi memperbincangkan honor, tapi saya tidak suka diam saja bila pihak klien melakukan sesuatu yang sangat positif (padahal kalau ada keluhan, teriaknya keras banget). Saya yakin adakalanya penerbit juga kurang puas pada saya selaku pekerja lepas, namun biasanya diutarakan langsung secara japri dan bisa diselesaikan baik-baik. Misalnya perihal koreksi yang banyak.

Belum lama ini, jadwal cair honor saya bertabrakan dengan suatu tanggal merah. Saya sudah pasrah karena penerbit itu punya hari « gajian » yang teratur. Katakanlah Senin liburnya, saya harus tunggu Senin depan untuk pencairan. Karena itu saya tidak mengecek saldo seperti biasa.

Ternyata honornya masuk sebelum tanggal merah tadi, jadi saya tidak perlu « berlibur » dengan harap-harap cemas dan kepikiran. Sekretaris redaksi pun mengonfirmasi pembayaran itu lewat e-mail. Alhamdulillah.

Masalah honor ini memang sensitif sekali, walau masih diperdebatkan terus. Saya cerita dulu, ya… Suatu tahun, ada penerbit yang bermurah hati. Honor penerjemah dan editornya terbilang tinggi, bahkan untuk ngedit pun dihitung dari naskah sumber. Bila pekerjaan disetor sebelum tenggat, ada bonus sekian rupiah per karakter yang kalau digabungkan jadi banyak sekali buat saya.

Tak dinyana, penerbit itu tutup. Saya tidak berani mengaitkan atau menuduh bahwa finansial adalah penyebabnya. Tapi karena pernah terlibat kerja di media cetak (yang honornya juga bagus banget untuk ukuran waktu itu) dan umurnya pendek, menjalankan usaha penerbitan memang butuh dana besar. Apalagi jika mau « idealis ».

Saya dulu bisa cengar-cengir dan senyum mendapatkan kompensasi yang « layak ». Namun saat penerbitnya gulung tikar, saya tidak bisa berbuat apa-apa…

Publicités