Kemit

Photo-0499

Kemit  = bahasa Sunda, artinya menunggui orang sakit.

Pertengahan November tahun lalu, untuk entah keberapa kalinya, ibu saya opname. Karena harus diinfus dan rumah sakit tengah overload sehingga tidak kebagian tiang infus yang bisa didorong sendiri, Mamah harus ditunggui. Tidak bisa oleh Adik, karena sudah terlalu sering izin dan dia sendiri tengah sakit. Vonis penyakit Adik termasuk ujian tambahan bagi kami.

Jadilah untuk pertama kalinya, saya kemit di rumah sakit. Biasanya tidak pernah sampai menginap. Dua tahun sebelum ini, kami pernah mondar-mandir selama dua/tiga hari dari rumah sampai kondisi Mamah membaik dan bisa ditinggal. Tanpa bermaksud tidak ikhlas (jika ada yang menyebut begitu, ya terserah), rumah sakit ini penuh tantangan karena:

1. Lokasinya di tengah kota, benar-benar jauh dari rumah kami. Sebenarnya kalau jauh tapi jalannya lempeng atau ada jalan pintas, tidak terlalu masalah. Namun melalui rute tengah kota yang padat dan ramai, muter-muter, daan…

2. Naik lift-nya selalu penuh. Sampai pernah suatu kali, seorang bapak yang tampaknya pasien berseru, « Yang sehat tolong keluar! » Kami tidak tersinggung. Kami maklum. Mana enak, sudah badan sakit, sesak-sesakan dan harus antre lama. Dua kali, saya naik tangga sejauh 7 lantai. Ngos-ngosan? Iyalah. Kenapa sejauh itu? Soalnya…

3. Ruang perawatan memang di lantai 7. Hanya ruang perawatan dengan kamar mandi bersama di tiap ruangan. Mushala di lantai 5 sudah raib, pindah ke basement. Shalat sih bisa « diakali », cuek pakai koran atau di pojok dekat tempat tidur. Saya pernah lihat bapak penunggu kamar lain shalat dekat jendela di lorong. Tapi kalau mau makan…

4. … harus turun ke basement, yang kantinnya relatif murah. Kafe yang « harga rumah sakit » ya ada, di lobi. Artinya turun 5-6 lantai. Entah karena kenaikan BBM baru diumumkan malam harinya, di kafe itu pun makanan berat jadi terbatas. Menunggui orang sakit dan banyak melek, mana kuatlah hanya makan kue? Bawaan mangkuk dan gelas saja sudah seperti orang pindahan, memenuhi tempat. Sedangkan warung-warung kecil baru buka sekitar jam 9. Sedihnya, deretan belakang yang lebih terjangkau sudah banyak yang tutup. Seperti penghiburan seorang teman, « Nggak apa, sekali-sekali bergaya kayak orang kaya. » Sedangkan masalah tidur…

5. … juga tantangan sebab pada dasarnya di ruangan Mamah, tidak boleh ada penunggu kecuali kondisi membutuhkan. Entah bagaimana di rumah sakit lain, namun di sini memang tidak ada « fasilitas » untuk penunggu selain kursi duduk biasa. Saya menggelar sleeping bag, lupa tidak membawa alas sehingga badan langsung kena lantai.

Jujur saja, trenyuhnya minta ampun. Di situ saya makin sadar, pantas kata orang, « Nungguin yang sakit biasanya ikut sakit. » Di rumah lebih bisa disiasati, tapi di rumkit sangat sulit. Penunggu harus bugar lahir batin, supaya pasien tidak kena semprot karena penunggu capek dan jadi kurang sabar. Harus bersih dan « steril » juga, padahal mikirin cucian kotor siapa yang bisa ambil alih? Apalagi rumah jauh dan yang di rumah pun bukannya santai-santai belaka. Antar ini dan itu, berbagi stamina dan otak dengan pekerjaan. Bisa dibayangkan bila penunggu yang disukai pasien (artinya pasien hanya cocok dengan orang tertentu), sigap mengurus administrasi, juga berfungsi sebagai pencari nafkah. Minimal untuk dirinya sendiri. Diberkahilah para atasan Adik yang sangat baik hati, karena seperti kata Adik, « Kalau kerja di kantor lain, aku udah kena SP nih. »

Jadi jangan lihat lembur, gaji dan yang « fisik » saja. Lembur mah konsekuensi. Tapi pengertian atasan di kondisi serbatakterduga, sungguh tak ternilai harganya.

Sebelum Mamah boleh pulang, saya sempat ke rumah dulu dan nebus tidur. Ya, tidur yang terpenting. Masalah baju kotor menggunung dan begini dan begitu, bukan untuk dipikirkan. Yang penting suami tidak kecapean amat dan bisa menepati tenggatnya. Tenggat saya? Hm… apa ya, yang lagi saya kerjakan waktu itu? Lupa deh. Tidak saya sentuh sama sekali, soalnya.

Alhamdulillah, Kakak bisa menyempatkan jenguk dari Depok sekalian menjemput Mamah dan mengantarkan ke rumah saya. Ini keputusan terbaik agar Adik dapat beristirahat, bagaimanapun dia sedang sakit dan saya malah nggak ngapa-ngapain untuk merawatnya. Kakak baru kali itu ke rumkit tersebut, jadi perlu dipandu lewat telepon. Heboh ketika tahu parkirnya lumayan jauh, lalu anak-anak Kakak belum makan dan baru sadar sesampai di lantai 7.

Sungguh jadi penunggu dan pengurus pasien membutuhkan stamina mental dan dompet.

Seandainya Kakak tidak bisa datang, entah bagaimana cara saya menjemput Mamah. Mungkin sewa mobil tetangga, karena daerah terpencil ini tak terjangkau taksi. Dianggap luar kota. Wahai kabupatenku, kapan kita merdeka? Saya harus pergi sendiri lantaran Adik ngantor dan suami tidak bisa mundur lagi tenggatnya. Urus administrasi di lantai 2, naik ke lantai 7 jemput Mamah, dudukkan di lobi, naik lagi bawa barang-barang… hmmm.

Setibanya di rumah kami, Mamah sudah membaik. Seingat saya tidak terlalu banyak pantangan, walau suami tetap harus masak dua menu setiap kali sempat masak. Sebut saya egois, tapi saya tidak setangguh teman-teman lain yang berorangtua lansia dan mengalah makan masakan yang nyaris « anyep » alias tidak berasa karena pantangan.  Kalau pasiennya kabita, ya silakan nikmati saja pemandangan saya makan menu « normal » itu.

Sekitar seminggu kemudian, tibalah harinya Mamah kembali ke tempat tinggal beliau. Di sini butuh persiapan lagi, karena Adik ngantor, di rumah tidak ada apa-apa dan tidak ada yang bisa keluar belanja untuk lauk hari itu, dll. Siasatnya, kami belanja dulu berbagai keperluan Mamah (di sana lebih ngota, tapi lucunya di tempat kami ada yang lebih lengkap), dibawa sekalian Suami antar Mamah pulang, jadi sampai rumah Mamah tinggal rebahan karena perjalanan dari desa kami ke sana juga lumayan untuk pasien yang baru sembuh.

Hal-hal yang menghibur antara lain kebaikan beberapa petugas rumah sakit kala itu. Pria perawat yang sangat sabar dan sanggup berbicara lembut kepada pasien (jempol saya angkat semua), beberapa wanita perawat yang bersedia tidak mengenakan wangi-wangi menyengat sehingga tidak bikin puyeng, terutama… para petugas katering dan pekerja outsource. Saya ingat betul seorang petugas wanita yang hendak mengganti tirai jendela sampai minta maaf berkali-kali dengan bahasa Sunda sangat halus sebab suami tengah tidur dekat jendela waktu itu.

Jadi, setelah kemit dan mengurus semingguan itu, apakah saya sakit? Tidak sempat, karena ada tenggat. Hanya saja saya haid dua kali sebulan.

Publicités