Empat Belas Tahun Menikah, Lima Belas Tahun Jadi Freelancer

duabaru

Yang kedua itu menurut Linkedin.

Salah satu alasan terkuat saya betah menjadi pekerja lepas adalah suasana tidak monoton dan jauh dari menjemukan. Berikut tantangan-tantangannya, tentu saja. Saya suka dunia buku karena aneka variasinya, perkembangannya, dan mirip menyelami dunia misteri karena banyak hal yang tidak dapat dirumuspastikan. Misalnya, kiat buku laris.

Kata orang, perubahan itu pasti. Hal paling pasti, malah. Namun seiring waktu, saya menyadari bahwa seringnya kecewa adalah akibat menganggap perubahan itu « kemajuan » atau « arah positif » melulu. Padahal namanya berubah, bisa jadi lebih baik atau malah buruk. Tergantung siapa yang memandangnya. Pelajaran yang saya petik: jika gemar berencana, jangan lupa berencana untuk kecewa/kemungkinan terburuk. Mengendalikan ekspektasi. Mengutip Mona Ratuliu di salah satu wawancara televisi, « Belajar kecewa dengan sehat. »

Lupa kadang jadi berkah. Lupa menyalakan ponsel, misalnya. Fokus saya pada pekerjaan dan urusan rumah tidak terganggu. Lupa membawa ponsel ketika keluar rumah (jarak relatif dekat, sekitar 10 km dalam jangka waktu 2 jaman pergi-pulang) terbukti sehat sekali untuk kerumahtanggaan kami. Bisa ngobrol tanpa selaan. Benar-benar tidak ada « pihak ketiga ». Risikonya ada, ibu saya yang panikan jika SMS tidak langsung dibalas atau ponsel saya mati itu. Namun ini pun tahap pembelajaran untuk mengatasi sindrom pencemas kronis yang beliau derita. Saya bilang, « Maaf Mah, hape bukan anggota badan. Kadang-kadang ku-silent kalau lagi kerja. »

Transisi dalam perubahan kebiasaan. Ini bagian gatal ketika luka di kulit dalam proses pemulihan. Karena tuntutan pekerjaan, beberapa bulan belakangan ini Mas Caroge berusaha bangun pagi. Lantaran masih ngantuk, pasti ada dampak. Jam sembilanan sudah tidur lagi, misalnya. Apalagi jika ada temu klien jam enam pagi. Buat saya sih, nggak apa-apa. Mana bisa secepat kilat mengubah kebiasaan yang sudah memuluh tahun. Beberapa buku motivasi menyatakan, jika disiplin dan konsisten dalam 21 hari, insya Allah kebiasaan baru ini akan mengakar. Nyatanya? Saya memandang secara manusiawi bahwa seperti orang berhenti minum/dalam pemulihan menderita penyakit berat, ada yang namanya relapse. Mungkin harus mulai dari nol lagi. Sekarang saya biarkan Mas Caroge kembali tidur sampai… mungkin pukul tujuh atau delapan, daripada dia bersungut-sungut dan jadi sensi berat karena kurang tidur. Kok ngalahan banget sih jadi istri? Oh, bukan. Saya pribadi bersumbu pendek jika kurang tidur. Boro-boro mikir, kuping saja rasanya pengang. Atau penging ya?:p

Masih seputar transisi ini, Mas Caroge tengah mengurangi asupan kopinya dan dibuat rada encer. Ini langkah besar di mata saya, walau sepele di mata banyak orang yang riuh berkomentar, « Sekalian atuh suruh (emangnya suami itu pesuruh?) berhenti kebiasaan satunya. » Tak usah saya sebut lah ya, males debat kusir. Perubahan paling ampuh jika dimotori kemauan sendiri, apa pun motivasinya. Saya « cuma » menghentikan kebiasaan makan pedas, mi instan, dan minuman bersoda saja harus setengah mati. Itu berkat peran pasangan hidup yang sabar, yang menghargai setiap langkah « kecil », termasuk ketika mundur lagi dan sempat tidak tahan alias sakaw. Antara lain, dulu Mas Caroge tidak makan mi instan dan minum soda di depan saya, sampai saya benar-benar sudah tidak tergiur lagi. Kalau pedas sih, lebih cepat « tobatnya ». Langsung membayangkan ngilu di lambung, walau psikosomatis.

Ada lagi yang menggelikan dalam lingkaran orang-orang (khususnya para wanita) terkait pasangan yang menghentikan kebiasaan tertentu ini. Saya pernah baca komentar, « Sayang lho uangnya, mendingan ditabung buat nikahin aku. » Dengan segala hormat, itu ucapan keliru yang malah akan mendorong orang bersangkutan memperparah kebiasaannya karena berang. Ketika kekalapan saya belanja buku sudah mencapai taraf mengkhawatirkan, Mas Caroge hanya bergurau, « Mbok ya ingat-ingat suami, masa punya duit buat beli buku dan pulsa melulu. » Teguran halus yang menyentil, sebab sering kali yang saya pakai beli buku ya uang dia juga. Dia tidak serta-merta meminta saya stop, hanya mengontrol bertahap. Jadi habis dari toko buku, kami duduk-duduk berdua makan di tempat favorit misalnya. Nyogok? Ah, terserah kalau Anda mau bilang begitu.

Setelah kalap borong buku itu reda sendiri (ada penyebab sangat masuk akal sih), Mas Caroge nggak pernah bilang, « Asyik, sekarang ada dana lebih buat…  » (keperluan atau keinginan dia apa saja). Besar kemungkinan itu yang membuat saya rela menghentikan kebiasaan tertentu. Saya juga menghargai « uang pegangan lelaki » yang tidak perlu saya atur-atur. Sadar saja akan konsekuensi hilangnya satu « kecanduan » akan beralih ke « candu » yang lain. Sah-sah saja, sebab kebiasaan sangat lama begitu ditiadakan seperti « hilang sebagian diri ». Hampir sama dengan pensiunan yang kena post power syndrome. Sangat mungkin selepas kebiasaan ngopinya berkurang, Mas Caroge jadi makin getol nonton berita politik, memperlengkapi perkakas bertukang, perkakas mbengkel, makin doyan bebek goreng, makin nggak suka bau parfum… atau sekadar wayangan sambil olah vokal di rumah lagi. Intinya, substitusi kebiasaan yang dihentikan tadi semaksimal mungkin untuk kesenangan dia. Meski terlihat egois. Yah, kadang-kadang untuk bahagia memang mesti egois.

Oh ya, menurut saya, suami juga perlu me time. Nonton bola, salah satunya.

Bertemu orang baik itu menyehatkan jiwa. Ketika saya berulang tahun bulan lalu, Mas Caroge mengajak ke optik. Kadonya berupa kacamata antiradiasi yang… harganya luar biasa ternyata. Dia sih santai saja, apalagi orang slordig macam saya butuh bingkai yang benar-benar nyaman dan tidak mudah tertekuk. Mbaknya yang melayani di optik sangat enak diajak bicara. Ketika melihat saya kaget mendengar info harga, dia bilang, « Ini ada pilihan lain, Bu. Nanti bisa diganti lensanya kalau Ibu sudah ada rizki. » Duh, pilihan katanya itu lho menyejukkan sekali… nggak bikin konsumen minder atau terpojok. Sementara di pojok, temannya bukan lagi main hape… tapi baca Qur’an. Kami dapat bonus dari Allah, lensa yang saya pesan ternyata kosong. Namun diganti lensa lain yang harganya dua kali lipat dan tidak kena biaya tambahan karena sudah terjadi transaksi.

Minggu lalu, anehnya lipgloss yang biasa saya pakai kosong di mana-mana. Yang ada berwarna dan berasa, hm… nggak mau ah. Akhirnya saya memberanikan diri… ke apotik bermerek (kata teman, apotik artis) di lantai bawah mal yang terkenal aduhai harganya. Saya khawatir dirubung SPG dan ditawari ini-itu (sindrom nggak nyaman ketemu orang banyak), tapi gimana lagi… butuh banget. Di luar dugaan, Mbaknya sangat ramah. Saya pakai jurus Mas Caroge, « Minta tolong carikan barangnya, dia akan merasa dihargai. » Jadilah saya membeli barang yang dua kali lipat lipgloss biasa (beda merek memang) namun senang karena pelayanan Mbaknya, ditambah kasihan melihatnya susah payah berjalan dengan sepatu hak tinggi. Tampak sangat tidak nyaman.

Kenapa saya memaksakan diri beli di tempat mahal itu, tidak mencari yang lebih terjangkau? Tenggat (terutama tenggat Mas Caroge) tidak memungkinkan kami sering-sering turun gunung. Lagi pula, mengingat waktu, ongkos parkir, dan bensin yang dipakai, sayang rasanya jika jauh-jauh pergi tapi pulang bertangan hampa. Bukan berarti kami tidak ikhlas bayar ongkos parkirnya lho, terlebih Mbak penjaga loket sangat santun:)

Terkait pekerjaan, belum banyak yang bisa diceritakan. Mas Caroge menyunting satu novel akhir tahun lalu, sepertinya dia belum bisa meluangkan waktu terlalu sering untuk itu. Saya sendiri lupa novel apa yang dia edit:p. Saya mulai memperbarui daftar kolega yang direkomendasikan, karena ada juga yang mundur untuk menekuni bidang lain. Ada beberapa hal yang perlu diikhlaskan, di antaranya CPU yang sudah 10 tahun kami « aniaya » dan sempat menginap 3 bulan di montir reparasi.

 

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s