Target dan Jumlah Halaman Hasil

Seorang rekan seprofesi pernah bertanya apakah saya memasang target « ketat » agar dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Jujur saja, dua tahun belakangan saya sudah mantap untuk lebih fleksibel perkara satu itu. Sebab intinya jadi pekerja lepas memang harus fleksibel, dalam arti « menyeimbangkan » karier dan kehidupan pribadi tidak semudah yang saya kira. Bahkan lebih berat lagi seiring usia (perkawinan) bertambah.

Dulu (baca: sejak usia 20-an) saya mencoba disiplin dengan menetapkan target « wajib ». Katakanlah, sehari minimal 10 halaman yang diterjemahkan atau diedit. Kalau tidak tercapai, saya uring-uringan, sakit kepala, dan susah tidur. Padahal ternyata susah tidur dan mumet itu karena kecapekan dan kelewat « ambisius », sedangkan penyebab kendalanya memang tidak bisa diakali/diabaikan. Bukan sekadar distraksi lumrah semacam cucian, setrikaan, piring kotor, kondangan. Mengutip Jules di CSI, « Life. Life happened. »

Transisi itu berat, jelas. Yang tadinya merasa « kegiatan » cukup pekerjaan di meja saja, mendadak harus memilah-milah waktu. Sudah berencana sejak malam agar bisa bangun pagi dan ngebut, tahu-tahu ada hal tak terduga. Malah jika dipikir-pikir, hal tak terduga itu pasti ada. Kadang dalam perjalanan ke perhelatan tertentu atau menangani suatu urusan keluarga, pikiran saya melayang ke sekian halaman yang mestinya bisa dikerjakan hari itu. Atau saya tumpuk jadi dobel target esok harinya… yang kadang gagal juga karena masih capek dan ngantuk.

Akhirnya saya « menyerah ».  Supaya tidak kesal, saya putuskan menyenangkan diri sendiri dalam distraksi yang harus dihadapi. Misalnya ketika harus mengurus sesuatu di tengah kota sampai pulang setelah Maghrib, mampir nongkrong dulu di tenda pecel lele langganan sekalian meluruskan kaki.  Rupanya prioritas berarti ada yang ditunda, dan itu bukan mencuri waktu.

Kembali pada target tadi, tentu saja harus ada selama ada yang berjudul deadline.  Saya usahakan disiplin dengan mengerjakan setiap hari, meluangkan waktu untuk itu. Kalau ternyata tidak banyak hasilnya, atau malah hanya satu halaman, ya nggak apa-apa. Siapa tahu besoknya bisa jauh lebih banyak. Kadang kendalanya karena naskah itu sendiri, di bagian-bagian tertentu butuh riset atau lebih cermat karena ada puisi, alur balik, penghalusan… ibarat jalan, ada belok ada lurus. Ada yang mulus, ada yang bergelombang.

Masih seputar halaman, seorang kolega editor in house bertanya apakah saya pernah menghitung atau membandingkan panjang naskah hasil terjemahan dengan sumbernya. Tentu saja pernah. Suatu ketika, saya kaget karena hasil dan sumber sama persis 300 halaman. Sempat khawatir terlewat, lalu cek lagi sumbernya yang dalam format PDF. Rupanya itu lumrah karena huruf di naskah sumber besar-besar, dan kecenderungan saya menulis ringkas sehingga tidak bengkak benar. Malah jika sampai bertambah banyak sekali, saya mikir jangan-jangan kalimatnya tidak efektif semua. Sejauh ini bertambahnya maksimal 50 persen, karena jarang menerjemahkan buku sampai 500an halaman. Tiga ratus halaman saja sudah termasuk tebal buat saya. Lebih-lebih belakangan ini, kesukaran bahan terjemahan meningkat.

Ini pengalaman saya pribadi, belum tentu sama dan cocok dengan penerjemah/editor lain:)

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s