Sisi Lain Diriku (The Other Side of Me)

The Other Side of Me

Pinjam gambar dari sana

Penulis: Sidney Sheldon
Penerjemah: Wawan Eko Yulianto
Tebal: 480 hlm; 11 X 18 cm

Cetakan: 1, Juni 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Saya pernah baca dan ulas buku ini di blog satunya, tapi sedang pindah server jadi tidak bisa kasih link sekarang.

Baru-baru ini saya tertegur kalimat seseorang bahwa hobi mestinya bukan yang dilakukan saat senggang, melainkan mendorong kita meluangkan waktu karena begitu menyukainya. Itu hasil modifikasi saya sedikit, kalimat aslinya tidak persis begitu. Dan saya sadar sudah mengesampingkan hobi satu ini: baca buku. Apa pun alasannya, harusnya saya punya waktu baca. Banyak di rumah juga, jadi nggak akan pening baca buku di kendaraan seperti yang bepergian tiap hari. 

Jadilah saya membaca ulang buku ini, sebelum baca ulang novel-novelnya. Karya Sheldon adalah salah satu yang mempertautkan saya dengan suami sejak belum menikah, jadi bahan diskusi dua orang yang sama-sama gemar berkhayal dalam konotasi terbatas dan beragam. Misalnya beberapa hari lalu waktu membahas biografi pengusaha hotel yang pernah dibacanya dan memulai dengan beli hotel usang, suami bilang, « Jadi ingat novel Sheldon deh. » Saya timpali, « Lho, niatku pun begitu kalau kita nggak kunjung punya rumah sendiri. Beli aja bekas toko atau restoran kecil yang udah tutup, misalnya. Gak ada aturan harus jadi toko lagi, kan? Aku nggak maniak renovasi juga, atur aja seadanya. Malahan jadi unik. »

Membaca ulang selang sekian tahun, tentu ada kesan yang berbeda. Setidaknya, sorotan yang berubah. Sewaktu mulai, suasana hati saya tengah buruk dan jadi makin buruk karena Sheldon bercerita ingin bunuh diri. Ditambah depresi ekonomi yang membuatnya jatuh bangun. Tapi seiring bab demi bab, rasa nyeri itu tertanggungkan. Toh saya ingin mengambil pelajaran dari situ, buku inilah salah satu sumber motivasi saya tiap kali mental jatuh.

Gaya tulis memoar Sheldon dan novelnya tidak jauh berbeda. Pendek-pendek terkesan terpenggal. Di novelnya banyak flashback, jadi wajar saja untuk menghidupkan nuansa thriller dan drama. Namun di memoar terasa melompat-lompat, lumrah pula. Seperti ingatan saya di usia segini. Mengenang masa lalu dari sekian puluh tahun silam, mungkin saja banyak yang tertinggal atau tertukar. Jadi ada beberapa bagian yang hanya teringat separuh.

Kalau dulu pengalaman Sheldon dan istri terkait anak adopsi membuat hati saya ikut teraduk-aduk, sekarang sekadar « tercubit ». Saya berterima kasih atas apa yang dia bagi, membuat saya ingat tidak sendiri setelah beberapa kali terjadi. Kebas ini mungkin dapat dianggap penerimaan, kalau ikhlas mah masih jauh banget…

Yang lebih bikin ngilu, masalah piringan sendinya yang longgar dan manik depresifnya yang kambuh tak terduga. Saya lebih mencermati lagi teknis kerja dunia hiburan, dengan ukuran profesionalisme berbeda-beda. Kadang produser memperlakukan aktris seperti karyawan, kadang penulis bersentuhan dengan gejolak politik, belum lagi sistem rating televisi dan sikut-sikutan yang memang riskan untuk penderita gangguan jiwa — yang di sisi lain beraspirasi kreatif dan bertalenta besar. Bikin sakit, tapi cinta.

Persoalan ekonomi tak urung membawa saya larut. Sukses, beli rumah mewah, anjlok, pindah apartemen, nunggak gaji pengurus rumah, dan begini dan begitu… cukup melelahkan. Tapi begitulah hidup. Tak ada jaminan hari tua pasti bergelimang gemerlapan, penuh kejutan, dan betapa kemasyhuran bisa berakhir seketika. Masih tetap menarik, celah-celah profesi unik yang entah ada di Indonesia atau tidak. Misalnya pembaca untuk departemen sastra di studio perfilman. Juga ada ilmu tentang sistem paket bioskop dan tergesernya bioskop oleh televisi.

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion /  Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion /  Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion /  Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion /  Changer )

Connexion à %s