Malaikat Keadilan

Data buku silakan tengok situs ini.

Karya Sidney Sheldon yang satu ini punya kenangan khusus bagi saya. Ini novel Sheldon pertama yang diperkenalkan Bapak (baca: dibelikan) sewaktu saya masih SMA. « Sudah waktunya baca fiksi yang tebal, » kata beliau saat itu. Nahasnya, novel ini dipinjam seseorang dan tidak pernah kembali walau ditagih berulang kali. Untuk menghormati kenangan itu, saya beli lagi sekitar 10 tahun lalu. Sengaja seken, karena ingin cover yang ini. Kalau tidak salah, punya edisi bahasa Inggrisnya juga tapi nyimpannya tercecer, tidak berdekatan.

Beberapa hari lalu, saya baca ulang. Tema pengadilan, terutama yang banyak mengetengahkan sidang, sangat saya sukai. Orang bilang kalau sukanya begitu, baca saja semua buku John Grisham. Tapi saya tertarik mengetahui gaya berbagai pengarang mengangkat topik satu ini.

Seperti biasa, tokoh utama wanita Sheldon bertampang cantik dan cerdas. Sependek ingatan saya, itu karena kekagumannya pada sang ibu dan istri. Di masa novel ini ditulis, dunia hukum masih didominasi pria. Jennifer Parker langsung terempas di titik awal kariernya, tersiratlah pesan bahwa perjuangan seseorang kadang tanpa batas. Masa kecil/muda yang tidak mudah bukan jaminan hidup di hari depannya akan lebih mulus, hanya saja dia lebih « terbiasa ». Sheldon memang piawai menggambarkan detail-detail kesulitan ekonomi seseorang, bahkan saya mau baca deskripsinya yang memilukan. Padahal biasanya saya malas baca penggambaran tempat, pintu, tembok, perabot, dll.

Namanya sudah sekian puluh tahun berjarak dari baca pertama, saya baru temukan lagi segi-segi menarik yang bikin novel ini tambah seru. Pekerjaan mengantarkan surat panggilan pengadilan, misalnya, yang kadang mirip membagikan brosur di tepi jalan lalu ditolak orang lewat. Bila orang yang dituju surat itu sulit ditemui tapi si pengantar berhasil menyampaikannya, bayarannya besar. Trik-triknya bisa dipelajari, mungkin seperti strategi penagih utang. Intinya, pekerjaan yang tampak remeh pun butuh otak.

Dalam masalah percintaan, saya masih menaruh iba sekaligus gemas pada Jennifer. Tapi hidup kadang begitu… kok bisa-bisanya dari dua pilihan nggak ada yang mendingan. Seperti saat remaja dulu, saya lebih tertarik pada sosok Michael Moretti, malah membayangkan Christian Bale walaupun aktor itu bukan orang Italia. Kesan sadis dan karakternya dapet banget. Menulis tentang mafia adalah salah satu kemahiran Sheldon juga, menurut saya. Sekadar menyegarkan ingatan mengenai cinta segitiga ini, saya lega dan puas karena jalan keluarnya « logis » untuk tokoh seperti Jennifer.

Dari segala kisah jatuh-bangun, saya larut dan ikut terlipur ketika Jennifer bertemu orang baik. Di sini juga saya belajar cara menghargai privasi orang lain, dan pengetahuan yang sangat berharga adalah persidangan yang mirip teater. Sulit ditebak apa yang akan dikatakan, utamanya, pembela dan penuntut. Semakin tergambar bahwa praktisi hukum harus memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik.

Oh ya, ada hakim yang dikisahkan menerapkan hukuman potong tangan untuk pencuri « seperti dalam Al-Quran » di salah satu bab. Kemudian saat Jennifer ke Singapura, disuguhi cendol yang dicetak miring di buku ini.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion /  Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion /  Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion /  Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion /  Changer )

Connexion à %s