Bandung, Utara-Barat-Utara

Belum lama sebetulnya saya suka dan kuat membonceng motor ke luar provinsi (sebelah saja itu pun). Sekitar tujuh tahun. Harus diakui, belakangan banyak istirahatnya dan kadang ada malasnya melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Malas kehujanan. Malas kepanasan. Malas-malas yang lainnya juga. Mungkin karena beberapa kota mulai ramai dan agak macet, jadi terasa melelahkan. Mungkin hanya jenuh, tapi saya sudah mulai mikir, sampai kapan saya sanggup bermotor ke Jateng? 

Jujur, naik mobil pribadi sekalipun saya lebih malas lagi. Namun saya coba kompromi sedikit-sedikit. Dalam kota dulu. Akhir tahun lalu contohnya, saya ikut suatu acara famili di kota. Membayangkan ke kotanya saja sudah perjuangan banget. Dan saya malas pergi berombongan karena beberapa pengalaman kurang asyik. Bukan dengan yang ini, sih. Kelemahan saya memang beradaptasi dengan kelompok besar. Ibarat kerja kelompok masa sekolah, pasti ada ribut-ributnya.

Ternyata saya bisa naik mobil, lewat tol pula. Rombongannya dipecah, dan keponakan-keponakan yang sangat penuh pengertian menyerahkan tantenya yang pemabuk darat ini ke subrombongan yang paling nyaman. Nyaman ini bukan persoalan kendaraannya saja, tapi orangnya lebih utama. Nyetirnya enakeun, bicaranya santun, anak muda yang sangaaaat lirih suaranya (ini selera orang tua banget mungkin), AC-nya juga sopan. Suami mengamini, katanya paling malas disetirin orang yang misuh-misuh di jalan. Menambah nggak enak di jalan yang macet, dan saat itu akhir pekan. Glek.

Saya coba menikmati pemandangan, sesekali ngobrol singkat, supaya tidak terasa jauh amat. Ini kali kedua (atau ketiga ya?) kami ke Bandung Barat, sebelumnya sekitar 9 tahun silam.

Lokasinya sejuk dan tenang, ada danau pula. Jadi serasa piknik saja. Andai bukan acara resmi, kepingin gogoleran di rumputnya.

Pulangnya, disambut kemacetan malam Minggu yang luar biasa. Kami nyerah dan menunda pulang ke Timur. Sore itu, sembari cari obat sakit kepala ke apotek, kami jalan-jalan (jalan kaki beneran) ke taman terdekat. Melihat kota yang banyak berubah, alias diapit hotel di sana-sini. Untungnya sih, masih mudah menyeberang di ruas ini.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion /  Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion /  Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion /  Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion /  Changer )

Connexion à %s