Freelancer di Musim Kondangan

20150101_090803« Hati-hati lho, kalau ketahuan sarjana, bisa ditunjuk jadi Ketua Erte, » seloroh seorang teman kampus belasan tahun silam. Yah, padahal sarjana sekarang bukan « barang langka ». Tapi wajar saja jika pernah kuliah jadi alasan diharapkan memberi sumbangsih buat sekitar.
Keluhan yang masih banyak bertebaran di kalangan pekerja lepas (terutama yang di rumah) hingga zaman android ini, « terkesan punya banyak waktu/santai sehingga kerap ditodong bantuan. » Saya sendiri sudah « menyerah » untuk ngotot soal kesulitan mengatur waktu dan kadang sempitnya waktu. Saya coba pahami sudut pandang orang lain, mungkin kesan santai itu tumbuh dari sering tampak bengongnya saya (sewaktu rehat ngetik), pakai baju rumah, pergi-pulang tak kenal waktu… padahal saya menghindari rutinitas biar nggak di-stalk psikopat. Ini efek kebanyakan nonton film thriller:))

IMG_0667

Jadi saya putuskan menjelaskan di sela-sela interaksi sajalah. Ketika keluarga dekat yang menikah, saya sempatkan hadir dengan catatan ada rezeki (ini mencakup dana, waktu, dan stamina). Satu-dua kali berbekal laptop dengan menanggung risiko dalam perjalanan jauh. Risiko yang paling sering sih: tidak sempat nyicil kerjaan, bisa ngetik satu-dua halaman sudah bagus. Biasanya saya ngalah pada suami, dia ngetik saya istirahat. Dia selesai ngetik, saya masih tidur-tiduran.

Belakangan ini, kerabat dalam kota yang sering mengadakan perhelatan. Sulit buat kami mengelak, mengingat kemacetan dan macam-macam hal menjadi dalih untuk ketemu saudara sendiri. Dalih itu jadi lemah, sebab toh banyak saudara yang tiap hari mengarungi perjalanan jauh antarkecamatan atau bahkan dari timur ke barat untuk mencari nafkah. Jadi acara pernikahan lebih diniatkan sebagai jalan-jalan dan ketemu sanak saudara, yang saat lebaran pun belum tentu ketemu karena liburnya berbeda-beda. 20171105_092236

Sewaktu kakak menikah sekitar 10 tahun silam, saya juga di tengah-tengah proses merampungkan suatu pekerjaan. Sebenarnya sudah selesai, jadi saya santai saja ngecek e-mail sesekali di warnet karena menginap di rumah orangtua sepanjang masa persiapan sampai hari H. Tahu-tahu klien minta sedikit revisi dan menambah satu proyek ringan yang bayarannya lumayan untuk bantu-bantu di sana. Maklum, acara di rumah pun banyak tetek bengeknya. Suami yang datang belakangan saya minta membawa laptop tua kami, kemudian saya kerjakan mumpung rumah belum didekor dan barang belum dipindah sana-sini. Sesudahnya pun saya ingatkan diri sendiri untuk mengunci laptop di tempat yang aman, sebab sering kali saat rame-rame begitu barang penting lupa ditaruh dan malah hilang tak tentu rimbanya.

Masa itu belum ada Android, jadi saya tenang-tenang saja mengesampingkan ponsel sembari mengecek pesanan camilan untuk keluarga dekat, melayani tetangga yang ingin lihat-lihat dekor, mencari rumah kosong yang bisa disewa beberapa hari untuk transit dan menginap keluarga dari luar kota (diberkahilah Pak RT yang budiman dan ringan tangan), juga menunggui juru dekor dan mempersiapkan konsumsinya. Saya nggak suka masak, nggak bisa masak juga, tapi suka mengecek apakah juru dekor, perias, dan para kru sudah makan atau belum. Keriweuhan tertanggulangi karena di sekitar rumah ortu ada warung nasi Padang dan rumah makan Sunda, ketika masakan di rumah tidak cukup.

20171125_091556

Selang sekian tahun, kami sering dilibatkan di lingkungan rumah sendiri dalam acara seperti ini. Meskipun malas dengan urusan seremonial, kami harus tahan diri jika itu kehendak empunya hajat. Apalagi jika yang punya acara itu tetangga dekat, masa iya kami mau kabur:)) Yang terang sih, sekali lagi sebagai orang yang nggak suka masak, saya tak pernah ikutan rewang. Serahkan saja pada ahlinya.

Pikir punya pikir, sewaktu kami baru pindah saja, tetangga depan rumah selalu hajatan hampir tiap tahun. Hajatan di rumah bukannya nggak capek, tapi bagi kami lebih fleksibel karena tidak perlu mikirin perjalanan. Biasanya kami nyumbang teras untuk menaruh kursi, juga tempat istirahat kru hiburan. Satu-dua tamu kami persilakan ke kamar kecil jika berkenan. Bukan hanya sekali, kami lihat para penyelenggara hajatan jatuh sakit karena kecapekan setelahnya. Tapi meminimalkan kerepotan yang menurut kami kurang perlu pun sulit, biasanya yang jadi alasan karena « anak perempuan satu-satunya » atau « baru pertama kali, biar berkesan » dll. 20180902_094602

Seiring waktu, saya belajar dari Pak RT kami yang juga bukan orang kantoran. Janjian berangkat bareng ke desa sebelah, rupanya beliau sedang menarik sampah. Mandi dulu, kondangan bersilaturrahim, sesudahnya ya narik sampah lagi:)) Malu hati juga sama stamina beliau yang sudah jadi kakek. Pokoknya diatur sedemikian rupa supaya semua bisa terlakoni sesuai porsinya. Beliau termasuk tanggap sekitar dan mengamati pengalaman orang lain. Sewaktu Pak RT menikahkan putri sulungnya, dipilihlah gedung yang cukup lapang sehingga anak-anak dan remaja bisa duduk santai sambil menikmati suasana. Ada masjid di pojok halaman, para tamu lansia tidak perlu berdesakan. Jadilah perjalanan ke kota itu (meski masih sama-sama di timur sini) tidak terasa jauh, apalagi bisa menempuh rute jalan pintas. Beberapa pedagang pun diperkenankan di halaman gedung, es krimnya laris karena hari itu panas sekali.

Sekadar kondangan dan ikut jadi « panitia » (istilah suami « penyemarak ») memang lain. Serunya memang, bila ada hajatan di rumah, tetangga bahu-membahu berusaha meringankan kepusingan sang penghelat. Tugas saya bisa dikatakan tak terdefinisi. Kalau dekat rumah, ya jadi departemen kamar kecil. Menurut kami, ini poin penting yang tidak boleh dilupakan. Bila tamu membludak, sebagian makan di rumah kami dan tetangga dekat lainnya supaya bisa selonjoran, cuci tangan, dan tidak buru-buru. Dalam setiap acara, selalu ada kesempatan untuk belajar. Misalnya penghulu yang terlambat karena teradang macet, juru rias yang katanya kebingungan mencari-cari alamat… petugas jemput selalu diperlukan. Ada lagi pagar ayu dadakan yang belum makan dari pagi, sampai urusan « sepele » seperti ekor gaun pengantin yang menjuntai dan perlu dipegangi agar tidak nyangkut atau terpeleset (jempol untuk fotografer yang sigap). Melihat tamu yang hamil tua kesulitan duduk di teras tetangga yang berundak-undak, saya jadi berkesimpulan « tangga itu seringnya nggak bermanfaat » dan bertambahlah ilmu mengenai pembangunan rumah yang aman serta nyaman. Terlebih wilayah tempat tinggal kami yang berbukit-bukit, sangat mendukung tren baru berbusana kebaya atau gaun pesta yang dipadankan dengan sepatu kets:))

IMG-20181013-WA0008
Foto: RDK

Sepulang dari hajatan, logikanya sih bisa istirahat sebentar (baca: tidur dan leyeh-leyeh barang dua jam) lalu melanjutkan pekerjaan. Tapi seringnya tidak begitu. Kadang musim hajatan di kampung seberang lengkap dengan musiknya siang-malam tidak memungkinkan. Bisa juga dalam satu-dua hari berdekatan, ada kondangan lain yang perlu dihadiri. Jadi bagaimana dong? Ya libur:)) Saya cukup beruntung karena dikontak klien untuk revisi seperti yang diceritakan di atas jarang terjadi. Waktu itu pun klien bertanya, apa tidak merepotkan? Beberapa sudah maklum, hajatan di desa kami tidak selalu berlangsung akhir pekan. Kadang hari kerja, bahkan pernah hari Senin:)

Publicités

Répondre

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion /  Changer )

Photo Google

Vous commentez à l'aide de votre compte Google. Déconnexion /  Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion /  Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion /  Changer )

Connexion à %s