FAQ

T: Bagaimana cara menjadi penerjemah buku?

J: Silakan baca uraian detailnya di blog Femmy Syahrani. Pengalaman saya seperti ini. Simak juga kisah Mbak Poppy.

T: Berapa honor penerjemah buku?

J: Silakan baca artikel ini.

T: Adakah cara lain di samping melamar dan ikut tes?

J: Jawabannya ada di situ.

T: Saya belum berpengalaman sama sekali, jadi tidak punya contoh karya untuk dilampirkan. Bisakah saya tetap melamar?

J: Bisa. Simak pengalaman Selviya Hanna.

T: Mungkinkah honor saya naik?

J: Artikel mengenai ini bisa dibaca di sana.

T: Bisakah saya meminta nasihat mengenai penerjemahan dokumen?

J: Sayang sekali, saya sudah lama tidak menekuninya lagi. Blog ini khusus membahas penerjemahan dan penyuntingan buku, sesuai profesi kami berdua. Mengenai terjemahan nonbuku, bisa disimak antara lain di blog bahtera atau milisnya.

T: Bolehkah saya magang menjadi penerjemah/editor lepas sebagai asisten Anda?

J: Maaf, tidak bisa. Itu melanggar kode etik, baik tertulis maupun tidak, dalam SPK. Untuk berlatih, Anda bisa menggunakan blog pribadi dengan bahan excerpt buku atau contoh-contoh kalimat seperti di sana.

T: Bisakah Anda mempromosikan saya kepada mitra-mitra dan kolega?

J: Saya tidak berwenang untuk itu. Silakan Anda melamar saja ke email atau alamat yang tertera di cover-cover buku, meski belum ada lowongan yang dipublikasikan. Bila hasil tes memuaskan, Anda akan langsung mendapat order.

T: Saya mendapat alamat email seorang editor dari kenalan, tapi bingung mengontaknya agar tetap santun dan berterima.

J: Ada kiat singkat soal itu di sini.

T: SPK itu apa? Isinya apa saja?

J: Silakan baca di situ.

T: Apa bedanya proofreader dan editor?

J: Sudah saya tulis di sini dan di sana. Baca juga mengenai honornya bila Anda tertarik.

T: Apakah order selalu mengalir secara kontinyu?

J: Saya tidak bisa menjamin, dan pekerjaan ini memang relatif ‘tidak menentu’. Silakan baca pengalaman kami di sana.

T: Apakah menjadi penerjemah buku mencukupi untuk hidup?

J: Tergantung banyak faktor. Bagi saya pribadi sih, cukup. Namun yang pasti, jangan dibandingkan dengan penerjemahan nonbuku.

T: Apakah penerjemah harus lulusan Sastra Inggris?

J: Tidak wajib. Berikut bekal saya menekuni profesi ini.

T: Apakah fasih berbahasa asing (Inggris atau lainnya) dan pernah bermukim/studi di luar negeri juga membantu?

J: Tidak selalu, yang lebih penting adalah penguasaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sasaran. Juga kecakapan menulis.

T: Bagaimana caranya menjadi penyunting lepas?

J: Pengalaman saya begini.

T: Wah, editor honornya tidak besar ya. Mengapa Anda masih menekuninya?

J: Karena saya suka.