MENERJEMAHKAN DAN MENYUNTING DI MASA PANDEMI

Sejujurnya, sebelum pandemi saya sudah mulai jarang menyunting naskah terjemahan. Terutama yang berupa buku. Saya lebih sering menerjemahkan atau menyunting naskah lokal, rata-rata nonfiksi. Oleh sebab itu, saya sudah lebih awal beradaptasi dengan berkurangnya pekerjaan.

Di awal pandemi, saya « beruntung » karena banyak kerabat yang terpapar. Kenapa beruntung? Itu jadi pengingat pribadi supaya saya tidak lengah. Ada yang terpapar sampai dua kali, ada yang ranap, ada yang masih muda dan bugar, ada yang tidak selamat. Tak ayal, pikiran saya terpengaruh juga. Salah satu terjemahan saya kembali dengan coretan merah hampir di setiap halamannya. Alhamdulillah penerbit sejauh ini selalu berbaik hati memberi tenggat yang panjang. Selain kondisi, tentunya.

Terjemahan dan suntingan saya tidak banyak, tapi sangat saya syukuri karena bisa dibarengi dengan menjaga kesehatan. Bedanya, di masa pandemi hampir segala lini terdampak. Masa termenungnya jadi lebih banyak. Kemudian tibalah musim Delta, alias musim kabar duka termasuk di lingkaran terdekat kami.

Bagaimana cara bertahan? Setiap orang punya jurus masing-masing, saya juga tidak punya metode khusus. Yang penting sehat. Lainnya sih biasa saja. Kadang sehari menerjemahkan lumayan, kadang besoknya hanya satu-dua halaman. Kadang malah satu alinea saja, setelah memutar otak berjam-jam. Saya terbantu dengan membaca buku pelan-pelan, menyerap perbendaharaan kata ketika otak terasa panas dan imajinasi kering. Buku apa saja, tak harus terbitan baru. Asalkan kosakatanya kaya, variatif, dan ukuran hurufnya ramah di mata:)

Saya sempat mencoba hal-hal « baru » yang menjadi tren, tapi bukan sebagai « pemeran utama ». Tahun lalu, saya ikut beberapa kali Zoom dan menyimak berbagai materi menarik. Buntutnya sih streaming Youtube saja, lantaran banyak kendala teknis dengan laptop saya yang tua dan dua-tiga empat masalah lagi. Pernah bincang-bincang live di salah satu media sosial penerbit, tapi sekarang hape saya sudah menyerah karena tidak kompatibel lagi dan saya tidak berencana menggantinya dalam waktu dekat. Jualan online? Belanjanya saja saya masih nebeng tetangga yang punya aplikasi dan segala perangkatnya. Saya kagum pada banyak kreasi dan inovasi digital, tapi tidak semuanya cocok untuk saya.

Oh ya, dunia kegiatan saya menjadi berwarna sejak musim isoman mendarat juga di lingkungan kami. Menerangkan pemakaian APD, menjelaskan apa itu isoman berikut aneka aturannya, protokol kesehatan dasar, berbagi giliran tugas mengantar makanan/bahan makanan, sampai… menjelaskan berkali-kali pada orang yang menyangka WFH berarti dirumahkan/di-PHK.

Ada lagi? Lupa hari dan tanggal jadi kebiasaan. Ditambah kerja sambil dengar beberapa kali seruan, « Pakeeet! »

Adaptasi Si Pecinta Sunyi

Berubah itu kedengarannya mudah. Sering diucapkan orang, sering pula disebut-sebut dalam konteks motivasi.

“Pada satu titik semua orang harus berubah. Supaya hidup dinamis, tidak monoton.”

Ada kesan bahwa berubah pasti menjadi lebih baik. Ada peningkatan, ada perkembangan yang positif. Padahal kenyataannya tidak begitu. Banyak juga yang berubah menjadi buruk, bahkan lebih buruk.

Salah satu alasan saya memilih bekerja di rumah adalah kegemaran akan suasana yang tenang. Saya merasa lebih mampu berkarya dalam situasi seperti itu. Memang bukannya tanpa kendala sama sekali, namun biasanya masih terkendali. “Biasanya” yang membuat saya terbuai.

Setelah 18 tahun saya menekuni cara ini, tak dinyana pandemi mengharuskan kita lebih sering di rumah dan hanya keluar bila benar-benar perlu. Dampaknya lebih besar daripada perkiraan saya, sebab ini menyangkut orang lain. Termasuk orang-orang di sekitar saya.

Tiba-tiba setiap pagi banyak suara terdengar di dekat rumah. Wajah-wajah, yang biasanya hanya sesekali saya temui, lebih sering terlihat. Lingkungan yang relatif tenang menjadi riuh, bahkan saya bisa mendengar anak-anak bermain hampir setiap waktu, membaca keras-keras tugas sekolah yang harus diselesaikan hari itu, percakapan orangtua mereka sembari lalu-lalang, orang-orang dewasa lainnya yang berusaha mengisi waktu luang dengan berbagai hobi baru, dan macam-macam lagi yang tak ayal membuat saya gelisah.

Saya mulai sulit berkonsentrasi. Kadang-kadang memejamkan mata di malam hari pun butuh usaha keras. Mendadak saja banyak orang harus bekerja di rumah, padahal tidak semua mampu dan menyukainya. Bagi saya pribadi, bekerja di rumah tidak menyenangkan lagi jika harus melakukannya “beramai-ramai” di waktu dan tempat yang berdekatan. Di sisi lain, saya tidak menyalahkan lingkungan. Mereka juga kaget. Mereka tidak siap.

Untuk mengatasi kelelahan itu, saya persering kegiatan yang sempat disebut “puasa bicara” yakni membaca buku. Di era digital, membaca buku cetak mungkin terkesan keras kepala dan enggan menyesuaikan diri dengan perubahan. Namun karena banyak aktivitas yang mengandalkan koneksi internet serta menuntut sering menatap layar, saya jadi mudah letih. Bersentuhan dengan sesuatu yang “antik”, manual, dan berwujud seperti buku cetak adalah penawarnya.

Lalu muncullah tantangan berikutnya. Mata saya kesulitan membaca huruf-huruf yang rasanya makin mengecil. Sampai menulis cerita ini, saya belum menemukan kacamata plus yang cocok. Untuk sementara, saya harus menjauhkan tangan saat memegang buku. Lumayan pegal jadinya jika buku itu tebal. Cukup lama saya merasa sedih karena sukar membaca buku kesayangan, seperti seri komik bisnis Bikin Laris Restoran. Saking sayangnya, ketika salah satunya lenyap entah ke mana, saya membeli lagi.

Selera akan buku-buku lama ini juga menyiratkan sukarnya saya berpaling dari masa lalu. Terutama kenangan yang indah-indah. Bagaimana tidak, buku Madita (kini Madicken), Pippi, dan seri Petualangan karya Enid Blyton sudah saya kenal semasa kecil. Tak terhitung berapa kali saya membaca ulang semuanya. Syukurlah huruf-hurufnya cukup besar sehingga saya masih nyaman menikmatinya. Saya terhibur oleh ulah Philip yang senang hewan aneh-aneh sehingga Dinah adiknya ketakutan, keberanian Lucy-Ann, bahkan polah Kiki si kakatua pencemburu yang merajuk jika ditegur Jack. Saya beruntung masih memiliki buku-buku ini, walaupun tidak lengkap dan sebagian adalah hasil berburu di toko buku bekas karena milik saya rusak akibat banjir di rumah orangtua.

Jika huruf-hurufnya tidak terlalu rapat, meski kecil, masih dapat saya baca. Misalnya seri Malory Towers dan St. Clare. Kedua seri novel sekolah asrama ini selalu manjur untuk meredam suasana hati yang kisruh. Saya tidak pernah bosan dengan ketegangan pesta makan malam, kejelian ibu asrama, sikap tegas para guru yang disiplin, kerja keras para murid menjelang ujian dan mengerjakan tugas, bahkan konflik pribadi beberapa murid dengan orangtua masing-masing, termasuk anak yang berbuat nekat karena takut berterus terang pada ibunya dan anak berbakat yang menderita gangguan saraf akibat ambisi orangtua.

Setelah setahun berlalu, perjalanan adaptasi saya tidak selalu mulus. Kadang-kadang saya masih sulit tidur, bermimpi buruk, terlebih ada peristiwa menyedihkan yang bertubi-tubi. Ada saatnya saya bersyukur sedang tidak punya pekerjaan supaya bisa berdiam diri saja atau bergerak pelan-pelan sepanjang hari. Lain waktu, saya bersyukur punya pekerjaan sehingga dapat mengalihkan pikiran yang ruwet dan tidak larut dalam dukacita. Kamar saya yang sejuk sempat terlihat buram dan suram, menyesakkan. Hari-hari teduh yang saya cintai kadang hanya tampak seperti mendung yang menakutkan, seakan saya dilanda winter blues dan merasa tidak berdaya. Jika merasa penat, saya tidak memaksakan diri. Saya pindah ruangan, beristirahat, bernapas. Memang rasanya segala hal berjalan lebih lambat, namun saya belajar menerimanya.

Kini membaca saya lakukan sambil berjemur atau sekadar duduk di halaman sembari menikmati kicau burung di ranting pohon. Bukan hal yang mudah, mengingat ini bukan hobi yang terbilang “lazim” di lingkungan saya yang riuh oleh aktivitas tanam-menanam, beternak, dan berolahraga. Masih ada saja yang bertanya dan mengajak ngobrol sehingga ada buku yang tidak selesai-selesai saya baca, atau saya lupa sudah sampai mana dan harus mengulanginya. Tak mengapa. Saya mulai terbiasa melihat para wisatawan lokal yang bersepeda, para pendaki gunung, lebih sering bertanya atau menjawab pertanyaan tentang hari apa dan tanggal berapa, serta semakin menghargai kesenyapan musim hujan dan suara-suara alam. Saya juga sudah bisa merasa geli mendengar anak tetangga berteriak, “Permisi!” menirukan kurir.

Saya masih menaruh buku-buku (lama) di sisi tempat tidur, kadang diselingi majalah juga. Dunia memang berubah, namun ada bagian yang masih saya pertahankan dan saya ingin merawatnya.

didn’t allow herself

Apa ya kira-kira artinya? « Tidak membiarkan dirinya sendiri? » Ah, kedengarannya kok kurang enak.

Kalimat lengkapnya begini

She didn’t allow herself to be defined by her eighty-three years of being dependent on someone else.

Kata « define » itu sendiri sudah jadi tantangan. Saya sering baca di teks film, ngerti maksudnya tapi harus mikir padanan pasnya apa. Akhirnya, terjemahan saya begini:

Dia tidak mau dianggap lemah karena terbiasa bergantung pada orang lain selama 83 tahun.

Saya berani menggunakan « dianggap lemah » karena sesuai konteks. Jika cerita utuhnya lain, tentu saja padanannya berbeda.