MENERJEMAHKAN DAN MENYUNTING DI MASA PANDEMI

Sejujurnya, sebelum pandemi saya sudah mulai jarang menyunting naskah terjemahan. Terutama yang berupa buku. Saya lebih sering menerjemahkan atau menyunting naskah lokal, rata-rata nonfiksi. Oleh sebab itu, saya sudah lebih awal beradaptasi dengan berkurangnya pekerjaan.

Di awal pandemi, saya « beruntung » karena banyak kerabat yang terpapar. Kenapa beruntung? Itu jadi pengingat pribadi supaya saya tidak lengah. Ada yang terpapar sampai dua kali, ada yang ranap, ada yang masih muda dan bugar, ada yang tidak selamat. Tak ayal, pikiran saya terpengaruh juga. Salah satu terjemahan saya kembali dengan coretan merah hampir di setiap halamannya. Alhamdulillah penerbit sejauh ini selalu berbaik hati memberi tenggat yang panjang. Selain kondisi, tentunya.

Lire la suite « MENERJEMAHKAN DAN MENYUNTING DI MASA PANDEMI »

didn’t allow herself

Apa ya kira-kira artinya? « Tidak membiarkan dirinya sendiri? » Ah, kedengarannya kok kurang enak.

Kalimat lengkapnya begini

She didn’t allow herself to be defined by her eighty-three years of being dependent on someone else.

Kata « define » itu sendiri sudah jadi tantangan. Saya sering baca di teks film, ngerti maksudnya tapi harus mikir padanan pasnya apa. Akhirnya, terjemahan saya begini:

Dia tidak mau dianggap lemah karena terbiasa bergantung pada orang lain selama 83 tahun.

Saya berani menggunakan « dianggap lemah » karena sesuai konteks. Jika cerita utuhnya lain, tentu saja padanannya berbeda.

Ke Cikembulan dua kali (2)

20190814_100828Sekitar sebulan kemudian, saya kepingin balik lagi. Suasananya pasti beda, karena sudah bukan musim liburan sekolah. Libur anak kuliahan sih, tapi kayaknya kecil kemungkinan mahasiswa pelesir ke taman satwa.

Kami tetap berangkat hari kerja, hanya saja lebih pagi supaya tidak terhambat « iklan ». Lagi pula bulan Agustus sudah masuk puncak kemarau, jadi saya enggan keburu « kepanasan » di jalan mengingat kami berencana lewat Lebakjero saat pulang. Lire la suite « Ke Cikembulan dua kali (2) »